Skala usaha grup memberi konteks pada arti gangguan di satu fasilitas pengolahan. Berdasarkan laporan tahunan 2025, Palma Serasih mengelola lahan inti seluas 20.300 hektare dan lahan plasma 7.700 hektare. Total area tertanam mencapai 28.000 hektare; 99% berupa tanaman menghasilkan dan 1% tanaman belum menghasilkan.
Sepanjang 2025, perusahaan memproduksi 480.800 ton tandan buah segar dari kebun inti dan plasma. Pabriknya menghasilkan 140.200 ton minyak kelapa sawit serta 21.600 ton inti kelapa sawit.
Dampak kebakaran terhadap operasi
Untuk pembeli dan mitra usaha, kepastian produksi menjadi informasi yang perlu dipantau setelah insiden. Manajemen menyebut kapasitas olah dari pabrik anak usaha lainnya akan dioptimalkan agar target kinerja tetap tercapai. Namun, belum ada angka yang menunjukkan berapa kapasitas yang dialihkan atau besarnya pengaruh kebakaran terhadap produksi.
Perbedaan antara kegiatan kebun dan pengolahan juga penting. Perusahaan menyatakan operasional perkebunan tetap normal, tetapi pabrik yang mengalami kebakaran adalah fasilitas untuk mengolah hasil panen. Karena itu, pernyataan soal kebun yang berjalan normal tidak dengan sendirinya menjelaskan kapan fasilitas tersebut kembali beroperasi.
Manajemen Palma Serasih menilai prospek industri sawit pada 2026 tetap positif. Ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina dan Timur Tengah, menurut perusahaan, berpotensi mengganggu rantai pasok global serta mendorong kenaikan harga energi. Kondisi itu dapat mendorong pemerintah menerapkan mandatori biodiesel B45 atau B50 untuk mengantisipasi krisis energi.
Namun, perusahaan juga mencatat sejumlah tekanan terhadap pasokan dan biaya. Realisasi peremajaan sawit yang masih di bawah target, perubahan iklim, keterbatasan tenaga kerja, usia tanaman yang semakin tua, serta persoalan legalitas lahan disebut berpotensi menekan pertumbuhan pasokan minyak sawit.
Ekspansi pun menghadapi keterbatasan lahan dan pengetatan regulasi pemerintah. Perusahaan menilai ketegangan geopolitik, perang tarif, serta standar keberlanjutan yang lebih ketat berpotensi meningkatkan biaya operasional dan kepatuhan.
Di tengah tantangan itu, perhatian terdekat tertuju pada hasil penghitungan kerugian dan perkembangan operasional pabrik di Kutai Timur. Astrida menegaskan, “NUSA tetap berjalan normal dengan mengoptimalkan kapasitas olah PKS entitas anak perusahaan lainnya, sehingga target kinerja tetap dapat tercapai.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.