Data pada perdagangan Rabu juga menunjukkan investor asing mencatat net sell Rp528 miliar, meski IHSG saat itu menguat. Saham yang paling banyak dilepas adalah BMRI, ANTM, TLKM, BBRI, dan AADI.
Gabungan tekanan jual, pelemahan saham unggulan, dan ketidakpastian mengenai status pasar membuat pergerakan indeks relevan bagi investor ritel maupun perusahaan yang mengandalkan pasar modal. Saat indeks melemah, perubahan harga saham dapat berdampak langsung pada nilai investasi, tetapi keputusan tiap investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi saham yang dimiliki, bukan hanya arah IHSG.
Analis melihat ruang gerak masih terbatas
Analis BNI Sekuritas Fanny Suherman memperkirakan IHSG bergerak sideways dengan kecenderungan melemah. Ia menyebut area support 5.150-5.200 dan resistance 5.400-5.480.
BRI Danareksa juga menilai tekanan bearish belum mereda karena indikator MACD masih berada di zona negatif. Meski begitu, peluang technical rebound tetap terbuka apabila IHSG mampu bertahan di atas support psikologis 5.200.
Level-level tersebut memberi gambaran area yang diperhatikan dalam analisis, bukan kepastian arah indeks. Pergerakan aktual tetap bergantung pada transaksi yang berlangsung dan respons pasar terhadap perkembangan yang dicermati investor.
Di tengah volatilitas, bahan sumber menyarankan investor tetap waspada dan tidak FOMO. Pada pembukaan Kamis, IHSG tercatat berada di posisi 5.247,98.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.