SOFIA — Pemilu Bulgaria berlanjut ke putaran kedua pada 1 November setelah pemungutan suara presiden pada Minggu tidak menghasilkan pemenang. Partisipasi pemilih tercatat sangat rendah, sementara Iliana Yotova dan Andrey Gyurov maju sebagai dua kandidat dengan arah kebijakan luar negeri yang berbeda.
Hasil ini membuat pemilih kembali datang ke tempat pemungutan suara untuk menentukan presiden di tengah kekhawatiran soal perang Ukraina, keamanan Laut Hitam, dan tekanan biaya hidup. Persaingan juga menjadi ujian bagi partai Progressive Bulgaria yang dipimpin Perdana Menteri Rumen Radev.
Pemilu Bulgaria mempertemukan dua arah kebijakan
Yotova, presiden petahana yang berhaluan kiri, mendapat dukungan Progressive Bulgaria dan Partai Sosialis. Ia maju sebagai kandidat independen. Pesaingnya, Gyurov, didukung kelompok oposisi reformis pro-Barat.
Menurut laporan Associated Press, jajak pendapat saat pemungutan suara ditutup menunjukkan Yotova unggul 3% hingga 4% atas Gyurov. Namun, keunggulan itu belum cukup untuk mengakhiri persaingan. Keduanya akan berhadapan lagi dalam putaran kedua.
Yotova sebelumnya menjabat wakil presiden ketika Radev memimpin negara selama dua masa jabatan. Ia mengambil alih kursi presiden pada Januari 2026, setelah Radev mundur untuk mengikuti pemilihan parlemen. Jika menang, Yotova akan menjadi perempuan pertama yang terpilih sebagai presiden Bulgaria.
Dalam kampanye, Yotova menyuarakan penyelesaian perang melalui diplomasi. Di hadapan pendukungnya, ia mengatakan, “Saya mengadvokasi perdamaian melalui perundingan, bukan kekuatan.” Ia juga mendukung perbaikan hubungan dengan Rusia dan menyerukan pencabutan sanksi, menurut laporan AP.
Gyurov, ekonom yang pernah menjadi wakil gubernur bank sentral dan perdana menteri sementara, mengambil posisi berbeda. Ia menyatakan dukungan kuat untuk Ukraina. Saat menjabat perdana menteri sementara, ia menandatangani perjanjian kerja sama keamanan dengan Kyiv.
“Saya ingin Bulgaria punya suara sendiri di Eropa. Menjadi sekutu NATO yang dapat diandalkan, membela kepentingannya dengan kesiapan, diplomasi yang kuat, dan sikap yang jelas,” kata Gyurov kepada pendukungnya, seperti dikutip AP.
Partisipasi rendah dan tekanan keamanan
Pengamat mengaitkan rendahnya partisipasi dengan ketidakpercayaan publik terhadap politisi yang memicu apatisme. Deutsche Welle melaporkan jumlah pemilih kurang dari 40%, sementara aturan pemilu mensyaratkan partisipasi lebih dari 50% dari 6,6 juta pemilih terdaftar. Angka itu menggambarkan jarak antara syarat pemilu dan kehadiran warga di bilik suara.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.