JAKARTA — Memimpin perusahaan teknologi besar tak selalu menjadi pekerjaan yang cocok bagi pendirinya. Dustin Moskovitz, salah satu pendiri Facebook dan pendiri Asana, mengaku mengelola tim bukan panggilan utamanya, meski ia pernah memimpin Asana sebagai CEO selama lebih dari satu dekade.
Pengakuan itu menyoroti pengalaman yang dialami banyak pekerja: mereka mendapat tanggung jawab manajerial tanpa benar-benar menginginkannya atau memiliki pelatihan formal untuk menjalankannya. Fenomena ini dikenal sebagai “manajer tak sengaja”.
Dari pendiri menjadi pemimpin perusahaan
Moskovitz ikut mendirikan Facebook sebelum kemudian membangun Asana. Di perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan pekerjaan itu, ia menjabat CEO selama lebih dari satu dekade. Namun, capaian tersebut tidak serta-merta membuatnya merasa bahwa mengelola orang adalah pekerjaan yang paling sesuai baginya.
Perjalanan memimpin perusahaan juga berlangsung di tengah gejolak sosial dan politik dari luar organisasi. Bahan sumber menyebut tekanan itu membuat tantangan yang dihadapi Moskovitz selama masa kepemimpinannya semakin besar, meski tidak merinci peristiwa atau periode tertentu.
Pengalaman tersebut memberi gambaran bahwa tugas CEO tidak hanya berkaitan dengan strategi produk atau pertumbuhan perusahaan. Pemimpin juga harus menghadapi perubahan di luar kantor yang dapat memengaruhi suasana kerja, keputusan bisnis, dan cara tim menjalankan tugas.
Ketika jabatan manajer datang tanpa persiapan
Fenomena “manajer tak sengaja” muncul ketika seseorang masuk ke posisi mengelola tim bukan karena sejak awal ingin menjadi manajer, melainkan karena jalur karier atau kebutuhan organisasi membawanya ke sana. Bahan sumber menyebut kondisi ini sudah umum terjadi di tempat kerja.
Dampaknya terasa langsung bagi tim. Manajer yang belum siap dapat menghadapi tantangan dalam mengarahkan pekerjaan dan mendukung anggota tim, sementara pekerja yang sebelumnya unggul dalam tugas teknis harus menyesuaikan diri dengan tanggung jawab baru.
Sumber tidak menjelaskan metode pelatihan atau kebijakan perusahaan tertentu, tetapi menegaskan bahwa banyak pemimpin berada di posisi manajemen tanpa pelatihan formal ataupun keinginan kuat untuk menjalankannya.
Pengakuan Moskovitz juga memperlihatkan bahwa keberhasilan mendirikan perusahaan dan kecocokan dengan pekerjaan memimpin orang adalah dua hal berbeda. Seseorang bisa memiliki rekam jejak sebagai pendiri, tetapi tetap merasa bahwa pengelolaan tim bukan kekuatan atau minat utamanya.
Bagi perusahaan, persoalannya bukan semata siapa yang menerima jabatan. Kesiapan dan kecocokan orang yang memimpin dapat memengaruhi pengalaman kerja tim, terutama saat organisasi menghadapi tekanan dari luar. Tanpa dukungan yang memadai, promosi ke posisi manajer bisa menjadi perubahan besar bagi orang yang sebelumnya berfokus pada pekerjaan lain.
Bahan sumber tidak mencantumkan pernyataan langsung Moskovitz, tanggal pengakuan, atau rincian khusus tentang tantangan yang ia hadapi. Karena itu, pengalamannya menjadi contoh dalam pembahasan yang lebih luas tentang manajer tak sengaja, bukan dasar untuk menyimpulkan bahwa semua pemimpin perusahaan menghadapi situasi yang sama.
Moskovitz memimpin Asana sebagai CEO selama lebih dari satu dekade, meski mengelola tim bukan panggilan utamanya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.