Selasa, 27 Oktober 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Pemilu Serbia: Gerakan Mahasiswa Menang, Pengawasan Cegah Kecurangan

Pemilu Serbia
Pemilu Serbia

BELGRADE — Pemilu Serbia menghasilkan kemenangan bersejarah bagi daftar mahasiswa pada 25 Oktober: mereka meraih 52,45 persen suara dan 138 kursi parlemen. Para pendukung mengatakan pemantauan terorganisasi di tempat pemungutan suara membantu mencegah kecurangan, meski sejumlah relawan menghadapi kekerasan.

Daftar mahasiswa mengalahkan daftar Aleksandar Vucic–United Serbia, yang memperoleh 39,2 persen suara dan 103 kursi. Hasil itu mengakhiri dominasi Partai Progresif Serbia (SNS) yang telah berlangsung selama 14 tahun dan menandai perubahan besar dalam politik negara tersebut.

Menurut laporan FRANCE 24, gerakan mahasiswa mengerahkan pengawas resmi serta tim bergerak untuk mengamati proses pemungutan dan melaporkan dugaan pelanggaran. Mereka memantau aktivitas di dalam maupun di luar TPS, tempat praktik seperti daftar pemilih paralel dan pembelian suara bisa terjadi.

Pemilu Serbia dan kerja pengawas mahasiswa

Petar Botoski, mahasiswa pertanian yang mendukung daftar mahasiswa, berada di Novi Sad saat Vucic mengakui kekalahan partainya. Ia mengatakan suasana berubah menjadi riuh ketika hasil diumumkan, sementara pemindahan dan penghitungan suara masih berlangsung.

“Itu adalah momen yang paling menantang. Kami berharap menang, tetapi tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika pengumuman itu datang, saya terkejut, semua orang bersorak. Saat itu, suara masih dipindahkan dan dihitung,” kata Botoski kepada FRANCE 24.

Botoski mengatakan para relawan sepanjang hari melaporkan insiden kepada pihak berwenang, termasuk temuan daftar pemilih paralel dan dugaan pemungutan suara dengan metode carousel. Dalam praktik carousel yang dijelaskan laporan itu, pemilih menerima surat suara yang sudah ditandai, lalu membawa keluar surat suara kosong sebagai bukti bahwa ia telah memilih sesuai arahan.

Gerakan mahasiswa mempersiapkan pengawasan selama satu setengah tahun setelah memutuskan mengajukan daftar dalam pemilu legislatif. Botoski mengatakan mereka membangun jaringan relawan dan memberikan pelatihan untuk mengawasi proses pemungutan suara.

“Kami melatih setidaknya 16.000 orang untuk menjadi pengawas resmi, dua orang untuk setiap tempat pemungutan suara. Lalu kami melatih sekitar lima orang per TPS untuk menjadi bagian dari tim bergerak,” ujarnya. Tim itu, kata Botoski, bertugas mencari dugaan pelanggaran di luar TPS, termasuk intimidasi dan pembayaran kepada pemilih. Ia menilai pemantauan tersebut berpengaruh pada hasil.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda