Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Ribuan Pengunjuk Rasa Serbia Terus Tekanan Vucic Meski Janji Mundur

Ribuan pengunjuk rasa Serbia berkumpul di alun-alun Kraljevo dengan bendera merah-putih, spanduk bertuliskan mahasiswa menang
Ribuan pengunjuk rasa Serbia terus protes meski Presiden Vucic janji mundur dalam minggu. (Ilustrasi: AI)

KRALJEVO — Ribuan pengunjuk rasa memenuhi jalan-jalan Kraljevo pada Minggu pagi, mempertahankan tekanan pada Presiden Serbia Aleksandar Vucic sehari setelah ia mengumumkan akan mundur dalam hitungan minggu. Namun skeptisisme mendalam menyelimuti gerakan ini: apakah janji pengunduran diri benar-benar akan ditepati, atau hanya maneuver politis untuk melem­ahkan momentum protes yang telah menggoyang kekuasaannya selama 12 tahun.

Marko Djokic, seorang ahli IT berusia 41 tahun yang pulang ke kampung halamannya untuk ikut aksi, mengungkapkan keraguan itu dengan blak-blakan. “Saya tidak bisa membayangkan dia akan mundur dan menyerahkan kekuasaan kepada orang lain,” ujarnya di tengah kerumunan di alun-alun Balkova. Kata-katanya mewakili sentimen yang tersebar luas di antara ribuan peserta demonstrasi yang terus berdatangan meski cuaca panas menyengat.

Pelicin Kepercayaan yang Rapuh

Pengumuman Vucic tentang rencana pengunduran diri memang dilihat sebagai kemenangan signifikan bagi gerakan mahasiswa yang telah memimpin protes selama berbulan-bulan. Namun momentum ini tidak menandai penutup aksi, justru sebaliknya. Energi di lapangan tetap membara—bukti nyata bahwa masyarakat Serbia tidak akan puas dengan sekadar janji lisan dari seorang pemimpin yang kerap mengecewakan.

Vucic telah menggenggam kekuasaan sejak 2012, baik sebagai perdana menteri maupun presiden. Dalam perjalanan panjang itu, kepercayaan publik telah terkikis berkali-kali. Ketika dia menyebutkan akan mengundurkan diri dan membuka jalan bagi pemilihan presiden dan parlemen lebih awal, banyak pengunjuk rasa langsung bertanya: kenapa kami harus percaya kali ini?

Skeptisisme tidak muncul dari vakum. Ia tumbuh dari pengalaman nyata.

Akar Murka: Tragedi Oktober dan Akuntabilitas yang Hilang

Gelombang protes berbulan-bulan ini berawal dari peristiwa yang memilukan di Novi Sad, kota utara Serbia. Pada Oktober 2024, atap beton stasiun kereta api tiba-tiba runtuh, menewaskan 16 orang dan melukai puluhan lainnya. Insiden itu bukan sekadar kecelakaan tragis—ia menjadi simbol dari kegagalan sistem yang lebih luas: infrastruktur yang terabaikan, pengawasan yang lemah, dan ketiadaan akuntabilitas yang jelas.

Hingga hari ini, pertanyaan menggantung: siapa yang bertanggung jawab? Mengapa beton bisa jatuh tanpa peringatan? Pemerintah Vucic tidak memberikan jawaban memuaskan. Justru, respons awal terkesan defensif dan berfokus pada pengendalian narasi daripada investigasi mendalam.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda