JAKARTA — Saham yang diborong asing menjadi perhatian investor setelah transaksi beli asing di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp 1,55 triliun pada sesi I, Senin (26/10). Pada hari yang sama, pemerintah memastikan pemangkasan ekspor gas ke Singapura sebesar 31 miliar BBTUD masih mematuhi batas minimum kontrak.
Dua isu itu masuk dalam berita populer bisnis pada Senin. Catatan perdagangan menunjukkan investor asing tetap membeli sejumlah saham, meski secara keseluruhan transaksi mereka berakhir dengan penjualan bersih. Sementara itu, keputusan gas menyentuh kepentingan pasokan energi domestik sekaligus hubungan dagang dengan Singapura.
Saham diborong asing, tetapi jual bersih masih terjadi
Data transaksi sesi I memperlihatkan investor asing membukukan pembelian Rp 1,55 triliun. Namun, nilai penjualan mencapai Rp 2,69 triliun sehingga posisi akhirnya berupa net foreign sell sebesar Rp 1,14 triliun.
Di antara saham yang mencatat net foreign buy, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) berada di posisi teratas dengan nilai Rp 18,42 miliar. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyusul dengan pembelian bersih Rp 18,29 miliar.
Investor asing juga mencatat pembelian bersih pada PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) sebesar Rp 6,85 miliar, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) Rp 5,47 miliar, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) Rp 4,66 miliar, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Rp 4,28 miliar.
Arus jual terbesar justru mengarah ke bank-bank berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat net foreign sell Rp 201,92 miliar. Posisi berikutnya ditempati PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 129,94 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 89,67 miliar.
Perbedaan antara pembelian pada saham tertentu dan penjualan bersih di pasar secara keseluruhan menunjukkan bahwa transaksi asing tidak bergerak seragam. Daftar saham yang dibeli memberi gambaran pilihan pada sesi perdagangan itu, tetapi bukan berarti investor asing secara total menambah kepemilikan di pasar.
Pemangkasan gas disebut masih dalam batas kontrak
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pengurangan ekspor gas ke Singapura sebesar 31 miliar BBTUD tidak melanggar komitmen yang sedang berjalan. Pemerintah menyatakan penyesuaian itu dilakukan untuk mendahulukan kebutuhan energi di dalam negeri, dengan tetap menjaga volume sesuai batas minimum yang disepakati.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.