IHSG berakhir di level 5.266,13, melemah 106,96 poin atau 1,99%, menurut laporan ANTARA dan JPNN. CNBC Indonesia mencatat angka penurunan yang sama, meski menuliskan level penutupan secara lebih rinci. Kesamaan angka penurunan dan level penutupan itu memperkuat gambaran pelemahan indeks pada Selasa tersebut.
Nilai transaksi tercatat Rp17,94 triliun dengan volume 364,38 juta lot, berdasarkan data yang dimuat CNBC Indonesia. Detik Finance melaporkan nilai transaksi Rp17,57 triliun. Angka nilai transaksi dalam dua laporan itu berbeda, sehingga keduanya tidak digabungkan; data volume perdagangan yang tersedia dari CNBC Indonesia tetap menjadi acuan untuk rincian volume.
ANTARA dan JPNN mengutip Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama yang menilai kombinasi sentimen global dan domestik mendorong tekanan jual serta menekan selera investor terhadap risiko. Ia menyebut ketidakpastian evaluasi MSCI terkait transparansi dan investability pasar saham Indonesia sebagai salah satu perhatian pelaku pasar.
Laporan kedua media itu juga mengaitkan tekanan dengan pelemahan rupiah hingga Rp18.167 per dolar AS, kenaikan harga minyak mentah Brent ke 112 dolar AS per barel, serta imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang mencapai 7,52%. Faktor-faktor tersebut memberi konteks mengapa indeks melemah meski pembelian asing masih masuk ke sejumlah saham.
Bagi investor, daftar net foreign buy memberi gambaran saham yang menjadi sasaran pembelian asing pada satu sesi, tetapi bukan gambaran bahwa seluruh pasar menerima aliran dana masuk. Penjualan bersih di seluruh pasar dan pelemahan IHSG menunjukkan tekanan agregat tetap kuat.
Arus beli pada saham tertentu juga tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan investor memilih emiten tersebut atau menjamin arah pergerakan berikutnya.
Selisih antara aktivitas di pasar reguler dan pasar negosiasi serta tunai juga penting dibaca bersama. CNBC Indonesia melaporkan asing menjual bersih Rp40,62 miliar di pasar reguler, sementara mencatat pembelian bersih dengan nilai sama di pasar negosiasi dan tunai.
Karena itu, angka pembelian pada sepuluh saham perlu ditempatkan dalam konteks keseluruhan transaksi dan pelemahan indeks, bukan dibaca sebagai sinyal tunggal kondisi pasar.
Di tengah penurunan indeks, posisi teratas dalam daftar tetap ditempati CPIN. Data Stockbit yang dikutip CNBC Indonesia mencatat pembelian bersih asing pada saham itu mencapai Rp60,65 miliar pada perdagangan Selasa.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.