Rabu, 28 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Inflasi Australia Tembus 4,3%, Peluang Kenaikan Suku Bunga 85%

Inflasi Australia Tembus 4,3%, Peluang Kenaikan Suku Bunga 85%
Inflasi Australia Tembus 4,3%, Peluang Kenaikan Suku Bunga 85%. (Ilustrasi: AI)

Tekanan harga di Australia kembali menguat menjelang keputusan bank sentral. Inflasi Australia mencapai 4,3 persen secara tahunan pada September, mendorong peluang kenaikan suku bunga pekan depan menjadi sekitar 85 persen menurut data Bloomberg.

Biro Statistik Australia (ABS) mencatat indeks harga konsumen naik 0,8 persen pada September, dibandingkan 0,4 persen pada Agustus. Angka tahunan juga meningkat dari 4 persen sebulan sebelumnya, jauh di atas sasaran inflasi Reserve Bank of Australia (RBA) sebesar 2-3 persen.

Dampaknya terasa pada prospek biaya pinjaman rumah tangga dan dunia usaha. Jika RBA menaikkan suku bunga, cicilan pinjaman berpotensi bertambah; keputusan itu juga dapat memengaruhi biaya pembiayaan bagi bisnis. Namun, keputusan final baru akan diketahui setelah rapat dewan penentu suku bunga bank sentral.

Inflasi Australia dipicu perumahan dan bahan bakar

Komponen perumahan menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan pada September. Harga di sektor itu naik 5,2 persen, kata Kepala Statistik Harga ABS Rachael McCririck.

Transportasi turut mendorong kenaikan, terutama karena harga bahan bakar meningkat 9,4 persen pada September. Lonjakan itu menambah tekanan biaya perjalanan dan pengeluaran terkait transportasi, sementara kenaikan perumahan memperlihatkan tekanan harga meluas ke kebutuhan utama.

Ukuran inflasi inti juga bergerak naik. Inflasi trimmed mean, yang mengukur tekanan harga dengan mengecualikan perubahan ekstrem, mencapai 3,6 persen pada September. Angka Agustus direvisi turun menjadi 3,5 persen.

Kenaikan ukuran inti terjadi meski bahan bakar tidak dihitung dalam trimmed mean karena pergerakan harganya yang mudah berubah. Itu membuat data tersebut menjadi perhatian RBA, yang memantau tekanan harga mendasar saat menetapkan kebijakan moneter.

Pasar menanti keputusan RBA pekan depan

Setelah data CPI dirilis, pasar meningkatkan perkiraan kenaikan suku bunga pada November. Data Bloomberg menunjukkan peluang kenaikan sebesar 0,25 persen pekan depan berada di sekitar 85 persen.

Kepala Ekonom KPMG Australia Brendan Rynne menyebut angka inflasi itu sebagai “data terakhir yang diperlukan RBA untuk menaikkan suku bunga tunai untuk kelima kalinya tahun ini”. Ia menilai tekanan harga di ekonomi Australia sedang meningkat, bukan melemah, dan kenaikan inflasi mengejutkan pasar.

Pejabat senior RBA menghadiri sidang estimasi Senat saat data inflasi dirilis. Wakil Gubernur RBA Andrew Hauser mengatakan inflasi secara umum sesuai dengan perkiraan bank sentral, tetapi masih terlalu tinggi.

“Kami telah mengatakan itu berulang kali, dan saya yakin kami akan mengatakannya lagi hari ini,” kata Hauser.

Pernyataan itu menunjukkan bank sentral tetap menganggap inflasi sebagai persoalan, meski angka terbaru dinilai sejalan dengan proyeksi. Sebelumnya, Hauser memperingatkan prospek inflasi tampak “jauh lebih buruk” dibandingkan perkiraan RBA, sehingga membuka kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya.

Rynne mengatakan data terbaru dapat memberi dasar bagi RBA untuk menindaklanjuti peringatan tersebut. Ia menilai kenaikan suku bunga pada awal 2027 lebih mungkin terjadi jika inflasi tidak mulai turun dalam beberapa bulan mendatang.

Dewan penentu suku bunga RBA akan memulai rapat pada Senin dan mengumumkan keputusan pada Selasa sore. Bank sentral juga akan menerbitkan proyeksi ekonomi terbaru, termasuk perkiraan inflasi, yang menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan berikutnya.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair