Kamis, 29 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Breaking! IHSG Turun 1%, Ini Penyebabnya

IHSG turun terlihat pada layar perdagangan saham Indonesia pagi hari
Pergerakan IHSG melemah pada awal perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Pergerakan IHSG berbalik tajam setelah sempat dibuka menguat pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan turun 1,07% ke level 5.225,65 pada pukul 09.21 WIB, ditekan pelemahan sejumlah sektor dan saham berkapitalisasi besar.

Pada awal sesi, IHSG dibuka di 5.305,20 dan sempat mencapai 5.320,90. Tekanan jual kemudian membawa indeks ke titik terendah 5.223,90 pada pukul 09.18 WIB sebelum memantul ke kisaran 5.232. Pergerakannya masih mendatar di area itu saat data pukul 09.21 WIB dicatat.

Penurunan sebesar 56,66 poin terjadi ketika volume transaksi tercatat sekitar 44,48 juta lot, dengan nilai sekitar Rp1,89 triliun. Data Refinitiv menunjukkan sektor infrastruktur melemah 1,7%, sektor teknologi turun 1%, dan sektor keuangan terkoreksi 0,4%.

Penyebab IHSG turun: saham pemberat dan tekanan sektor

Sejumlah saham menjadi pemberat indeks pada awal perdagangan. Di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).

Saham lain yang turut menekan pergerakan IHSG adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Tekanan dari berbagai sektor dan saham ini membalikkan penguatan indeks yang sempat terlihat sesaat setelah pembukaan.

Bagi investor, pelemahan lintas sektor berarti pergerakan indeks tidak hanya bergantung pada satu kelompok saham. Saham perbankan, telekomunikasi, energi, dan teknologi ikut masuk dalam daftar pemberat, sehingga tekanan pada beberapa emiten besar dapat terasa pada indeks secara luas. Namun, angka perdagangan ini menggambarkan kondisi hingga pukul 09.21 WIB, bukan hasil penutupan pasar.

Keputusan The Fed dan data inflasi AS jadi perhatian

Di pasar global, keputusan The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada 3,75%-4,00% menjadi salah satu perhatian. Keputusan pada Kamis (29/10/2026) itu tidak bulat: Lisa Cook dan Beth Hammack mendukung kenaikan 25 basis poin. The Fed menyebut inflasi masih tinggi, sementara Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberi petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya.

Warsh menegaskan bank sentral masih berupaya mengembalikan inflasi ke target 2%. Ia juga menilai ekonomi AS semakin kuat. Pertumbuhan semester I-2026 direvisi naik menjadi 2,4%, tetapi suku bunga tinggi tetap menambah tekanan pada biaya pinjaman dan investasi, termasuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan.

Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 80%. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,042% setelah keputusan The Fed diumumkan. Perubahan imbal hasil dan ekspektasi bunga AS menjadi bagian dari sentimen yang dicermati investor ketika menilai aset di pasar domestik.

Data inflasi PCE Amerika Serikat untuk September dijadwalkan dirilis Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB. Pada Agustus 2026, inflasi PCE tercatat 3,4% secara tahunan, sedangkan inflasi inti mencapai 3,0%. Untuk September, inflasi inti diperkirakan naik 0,3% secara bulanan, dari 0,2% pada Agustus, dan meningkat menjadi 3,1% secara tahunan.

Angka itu penting karena PCE menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menetapkan kebijakan moneter. Hasil yang berbeda dari perkiraan dapat mengubah pembacaan pasar terhadap arah suku bunga, sementara perubahan ekspektasi tersebut berpotensi memengaruhi aset berisiko, termasuk saham Indonesia.

Data tenaga kerja dan keputusan ECB melengkapi sentimen

Amerika Serikat juga akan merilis klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 24 Oktober 2026. Sebelumnya, klaim awal untuk pekan yang berakhir 17 Oktober turun 6.000 menjadi 194.000, terendah sejak pertengahan Juli dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 200.000, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.

Data itu mengindikasikan pasar tenaga kerja masih solid. Laba korporasi yang kuat dan permintaan domestik membantu menahan gelombang pemutusan hubungan kerja, meski biaya energi akibat perang AS-Israel dengan Iran, ketidakpastian suku bunga, dan kebijakan perdagangan membayangi keputusan perekrutan perusahaan.

Bank sentral Eropa dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pukul 20.15 WIB, lalu menggelar konferensi pers pukul 20.45 WIB. Konsensus memperkirakan suku bunga pembiayaan utama bertahan di 2,65% dan fasilitas deposito tetap 2,50%. Investor juga akan membaca komunikasi ECB mengenai risiko inflasi, perlambatan pertumbuhan, dan tekanan biaya energi.

Perkembangan global itu datang bersamaan dengan perhatian terhadap inflasi dan pergerakan rupiah. Lonjakan imbal hasil Surat Berharga Negara juga menjadi perhatian pasar. Pada perdagangan pagi tersebut, titik terendah IHSG tercatat di 5.223,90 pada pukul 09.18 WIB.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair