Kamis, 29 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Investor Asing Borong Saham dengan Net Buy Rp 665, BBCA dan ASII Angkat IHSG

Investor Asing Borong Saham dengan Net Buy Rp 665, BBCA dan ASII Angkat IHSG
Investor Asing Borong Saham dengan Net Buy Rp 665, BBCA dan ASII Angkat IHSG Foto: katadata.co.id

Penguatan IHSG pada Rabu ditopang sejumlah saham berkapitalisasi besar, meski banyak saham lain masih tertekan. Investor asing mencatatkan net buy Rp 665,22 miliar pada perdagangan 28 Oktober, sementara BBCA dan ASII menjadi pengungkit utama indeks.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 16,18 poin atau 0,31 persen ke posisi 5.282,31. Indeks bergerak di rentang 5.167,34 hingga 5.282,31 dan menutup perdagangan di level tertingginya hari itu.

Angka penutupan itu sejalan dengan laporan ANTARA dan VIVA yang menyebut IHSG berakhir di 5.282,31, naik 16,18 poin atau 0,31 persen. Pergerakan indeks yang positif, bagaimanapun, tidak berarti seluruh pasar ikut menguat.

BBCA dan ASII jadi penopang terbesar IHSG

BBCA memberi sumbangan terbesar terhadap kenaikan indeks, yakni 34,15 poin. Saham PT Bank Central Asia Tbk itu naik 7,65 persen ke Rp 5.675.

ASII menyusul dengan kontribusi 15 poin indeks setelah saham PT Astra International Tbk menguat 7,99 persen. AMMN juga menopang IHSG sebesar 5,33 poin, didorong kenaikan harga saham 3,72 persen.

Kontribusi positif lainnya datang dari BBRI sebesar 2,94 poin dan MDKA sebesar 1,35 poin. Dorongan dari beberapa saham besar ini cukup untuk membawa IHSG ke zona hijau, tetapi belum menggambarkan penguatan yang merata di pasar.

Tekanannya nyata. TLKM menjadi pemberat utama dengan kontribusi negatif 6,45 poin setelah turun 3,27 persen. BRPT mengurangi 5,25 poin indeks saat sahamnya melemah 6,79 persen, sedangkan DSSA dan BREN masing-masing memberi tekanan 3,81 poin dan 3,50 poin.

VIVA juga melaporkan jumlah saham yang melemah lebih banyak daripada yang naik: 406 saham turun, berbanding 272 saham menguat, sementara 112 saham stagnan. Gambaran itu menjelaskan mengapa kenaikan indeks perlu dibaca bersama pergerakan saham penyusunnya, bukan sebagai tanda bahwa mayoritas investor sedang menikmati reli.

Net buy asing belum menghapus jual bersih sepanjang 2026

Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp 6,67 triliun dan penjualan sekitar Rp 6,01 triliun. Selisihnya menghasilkan net buy Rp 665,22 miliar pada hari tersebut.

Investor domestik bergerak sebaliknya. Nilai pembelian mereka sekitar Rp 9,21 triliun, sementara penjualan mencapai Rp 9,87 triliun, sehingga tercatat jual bersih yang besarnya relatif seimbang dengan pembelian bersih asing.

Nilai transaksi domestik mencakup sekitar 60 persen aktivitas perdagangan, sedangkan investor asing sekitar 40 persen. Artinya, arus beli asing memang ikut menopang pasar, tetapi investor lokal tetap memegang porsi lebih besar dalam transaksi hari itu.

Bagi investor, perbedaan ini penting karena net buy dalam satu sesi belum cukup untuk memastikan arah aliran dana sudah berbalik. Secara kumulatif sejak awal 2026 hingga 28 Oktober, investor asing masih mencatatkan jual bersih Rp 96,71 triliun. Jadi, catatan positif pada Rabu hadir di tengah posisi tahunan yang masih menunjukkan arus keluar.

Nilai transaksi terkonsentrasi pada saham besar

BBCA mencatat nilai transaksi tertinggi, sebesar Rp 3,31 triliun. Berikutnya, BMRI membukukan Rp 1,08 triliun dan TLKM Rp 1,03 triliun. BBRI mencatat Rp 927 miliar, sementara BUMI mencapai Rp 634 miliar.

Secara keseluruhan, nilai transaksi saham di seluruh pasar mencapai Rp 15,88 triliun, dengan volume 31,54 miliar saham dan frekuensi 1,54 juta kali. Besarnya aktivitas pada sejumlah emiten besar menunjukkan bahwa perdagangan ramai, tetapi arah harga di antara saham-saham itu tidak seragam: BBCA menguat tajam, sementara TLKM justru menjadi penekan terbesar IHSG.

ANTARA dan JPNN menambahkan konteks bahwa penguatan bursa Asia ikut mendukung IHSG. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, dalam kajian yang dikutip ANTARA, menyebut optimisme terhadap kecerdasan buatan turut mewarnai reli pasar kawasan setelah kabar rencana IPO Anthropic pada pertengahan November 2026.

Dari dalam negeri, laporan ANTARA menyebut keputusan FTSE Russell mempertahankan status Indonesia di kelompok pasar berkembang sebagai salah satu pendorong. Namun, kekhawatiran mengenai status Indonesia dalam indeks MSCI membatasi penguatan.

Faktor eksternal dan domestik itu memberi latar, tetapi data perdagangan hari tersebut menunjukkan penopang langsung indeks tetap terkonsentrasi pada sejumlah saham.

Perdagangan berikutnya akan memperlihatkan apakah pembelian asing berlanjut dan apakah saham-saham besar kembali mampu menahan tekanan. Untuk sementara, fakta yang paling kontras tetap sama: net buy asing Rp 665,22 miliar pada Rabu, berhadapan dengan jual bersih asing Rp 96,71 triliun sepanjang 2026 hingga 28 Oktober.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair