Investor domestik bergerak sebaliknya. Nilai pembelian mereka sekitar Rp 9,21 triliun, sementara penjualan mencapai Rp 9,87 triliun, sehingga tercatat jual bersih yang besarnya relatif seimbang dengan pembelian bersih asing.
Nilai transaksi domestik mencakup sekitar 60 persen aktivitas perdagangan, sedangkan investor asing sekitar 40 persen. Artinya, arus beli asing memang ikut menopang pasar, tetapi investor lokal tetap memegang porsi lebih besar dalam transaksi hari itu.
Bagi investor, perbedaan ini penting karena net buy dalam satu sesi belum cukup untuk memastikan arah aliran dana sudah berbalik. Secara kumulatif sejak awal 2026 hingga 28 Oktober, investor asing masih mencatatkan jual bersih Rp 96,71 triliun. Jadi, catatan positif pada Rabu hadir di tengah posisi tahunan yang masih menunjukkan arus keluar.
Nilai transaksi terkonsentrasi pada saham besar
BBCA mencatat nilai transaksi tertinggi, sebesar Rp 3,31 triliun. Berikutnya, BMRI membukukan Rp 1,08 triliun dan TLKM Rp 1,03 triliun. BBRI mencatat Rp 927 miliar, sementara BUMI mencapai Rp 634 miliar.
Secara keseluruhan, nilai transaksi saham di seluruh pasar mencapai Rp 15,88 triliun, dengan volume 31,54 miliar saham dan frekuensi 1,54 juta kali. Besarnya aktivitas pada sejumlah emiten besar menunjukkan bahwa perdagangan ramai, tetapi arah harga di antara saham-saham itu tidak seragam: BBCA menguat tajam, sementara TLKM justru menjadi penekan terbesar IHSG.
ANTARA dan JPNN menambahkan konteks bahwa penguatan bursa Asia ikut mendukung IHSG. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, dalam kajian yang dikutip ANTARA, menyebut optimisme terhadap kecerdasan buatan turut mewarnai reli pasar kawasan setelah kabar rencana IPO Anthropic pada pertengahan November 2026.
Dari dalam negeri, laporan ANTARA menyebut keputusan FTSE Russell mempertahankan status Indonesia di kelompok pasar berkembang sebagai salah satu pendorong. Namun, kekhawatiran mengenai status Indonesia dalam indeks MSCI membatasi penguatan.
Faktor eksternal dan domestik itu memberi latar, tetapi data perdagangan hari tersebut menunjukkan penopang langsung indeks tetap terkonsentrasi pada sejumlah saham.
Perdagangan berikutnya akan memperlihatkan apakah pembelian asing berlanjut dan apakah saham-saham besar kembali mampu menahan tekanan. Untuk sementara, fakta yang paling kontras tetap sama: net buy asing Rp 665,22 miliar pada Rabu, berhadapan dengan jual bersih asing Rp 96,71 triliun sepanjang 2026 hingga 28 Oktober.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.