SAMARINDA — Udang windu mencatatkan diri sebagai komoditas primadona yang menggerakkan ekspor sektor kelautan dan perikanan Kalimantan Timur sepanjang 2026. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim mencatat performa positif ini berkat permintaan pasar internasional yang terus stabil.
Data DKP Kaltim menunjukkan akumulasi ekspor udang pada periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 1.385,88 ton dengan nilai ekonomi menembus Rp274,74 miliar. Khusus untuk udang windu, komoditas ini menyumbang sekitar 77 persen dari total nilai ekspor perikanan pada kategori tersebut, dengan volume penjualan 769,9 ton senilai Rp173,3 miliar.
Jangkauan Pasar Global dan Logistik
Produk perikanan asal Kalimantan Timur kini telah berhasil menembus 12 negara tujuan ekspor. Jepang, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Malaysia menjadi pasar utama yang paling stabil menyerap hasil tangkapan maupun budidaya daerah tersebut.
Tidak hanya pasar utama, produk asal Kaltim juga rutin dikirim ke Taiwan, Singapura, Vietnam, Hong Kong, Inggris, Korea Selatan, hingga Arab Saudi.
Penelaah Teknis Kebijakan DKP Kaltim, Heliana, menyebut kelancaran distribusi ini ditopang oleh penguatan konektivitas logistik internasional, termasuk ketersediaan layanan penerbangan kargo langsung dari Balikpapan menuju Wenzhou, Tiongkok, yang beroperasi dua kali sepekan.
Sepanjang Triwulan I-2026, volume ekspor perikanan Kaltim tercatat mencapai 670,3 ton. Sementara pada September 2026, aktivitas ekspor kembali mencatatkan volume sebesar 360,32 ton dengan nilai ekonomi mencapai Rp65,39 miliar.
Penguatan Sektor Hulu
Selain mengandalkan komoditas unggulan, pemerintah kini memperkuat sektor hulu melalui program Kampung Nelayan. Terdapat tiga lokasi di Kaltim yang menjadi titik strategis nasional, yakni kawasan Loa Kulu di Kabupaten Kutai Kartanegara, Sepatin di Kabupaten Kutai Kartanegara, serta Pulau Maratua di Kabupaten Berau.
Heliana menjelaskan bahwa pihaknya terus berkomitmen mengembangkan potensi maritim melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, akademisi, kelompok pembudidaya ikan, hingga nelayan tangkap. Sinergi tersebut difokuskan untuk meningkatkan daya saing produk di pasar global.
“Melalui kolaborasi dan sinergi yang dibangun bersama, kami berharap dapat menumbuhkan ekosistem ekonomi baru berbasis ekonomi biru yang berkelanjutan lewat optimalisasi potensi kelautan di Kaltim,” ujar Heliana saat memberikan keterangan di Samarinda.
Ke depan, DKP Kaltim juga mulai melirik potensi pengembangan komoditas lain di luar udang, seperti ikan kerapu yang kini banyak dikembangkan di wilayah Kabupaten Berau. Langkah diversifikasi ini diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi daerah meski ketergantungan pada udang windu masih menjadi tumpuan utama saat ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.