Sabtu, 31 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Anjing Chernobyl Berbeda Genetik, Seleksi Alam Diduga Berperan

Anjing Chernobyl Berbeda Genetik, Seleksi Alam Diduga Berperan
Anjing Chernobyl Berbeda Genetik, Seleksi Alam Diduga Berperan

CHERNOBYL — Perbedaan genetik anjing yang hidup dekat pembangkit listrik nuklir Chernobyl diduga berkaitan dengan seleksi alam, bukan mutasi akibat radiasi. Temuan dari analisis genom ini memberi petunjuk tentang bagaimana populasi hewan bertahan di kawasan yang tercemar setelah bencana nuklir 1986.

Peneliti menganalisis data sekuens genom utuh dari 106 anjing yang dikumpulkan pada 2018 hingga 2019. Sampel berasal dari sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl dan Kota Chornobyl, yang berjarak sekitar 16 kilometer.

Bagaimana anjing Chernobyl bisa berbeda?

Perbedaan genetik antara kedua kelompok anjing itu sudah ditemukan dalam penelitian yang terbit pada 2023. Namun, penelitian baru yang dimuat di jurnal Genes menguji kemungkinan penyebab lain: seleksi alam atau perubahan acak yang dikenal sebagai hanyutan genetik.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa perbedaan tersebut tampaknya tidak muncul hanya karena kebetulan. Mereka menemukan perubahan yang terkonsentrasi di wilayah genom tertentu, dekat gen yang berkaitan dengan kanker, fungsi dan pemeliharaan sel, penyakit menular, serta respons kekebalan.

Temuan itu belum membuktikan bahwa seleksi alam menjadi penyebabnya. Megan Dillon, ahli genetika populasi dari North Carolina State University sekaligus penulis pertama penelitian, mengatakan tanda-tanda pada genom tersebut mengarah pada kemungkinan seleksi.

Dillon menjelaskan bahwa gen-gen di wilayah yang diteliti terlibat dalam jalur biologis yang mungkin membantu anjing menghadapi paparan zat beracun di lingkungan itu. Namun, hubungan tersebut masih perlu diuji lebih jauh.

Apa arti temuan ini bagi anjing di zona eksklusi?

Ledakan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl pada 26 April 1986 membuat otoritas Soviet mengevakuasi kawasan sekitar dan menetapkan zona eksklusi seluas sekitar 2.600 kilometer persegi. Banyak warga terpaksa meninggalkan hewan peliharaan mereka. Setelahnya, para likuidator dikirim untuk membunuh hewan yang tertinggal, termasuk ternak di kawasan tercemar.

Meski begitu, sebagian anjing berhasil lolos dan membentuk populasi yang bertahan. Peneliti memperkirakan beberapa ratus anjing kini hidup di zona eksklusi. Mereka diduga berasal, setidaknya sebagian, dari hewan peliharaan yang ditinggalkan setelah bencana.

Anjing-anjing itu kini berjarak lebih dari 30 generasi dari peristiwa tersebut. Populasi ini memberi peneliti kesempatan untuk mempelajari bagaimana isolasi dan lingkungan tercemar berkaitan dengan perubahan genetik dari generasi ke generasi.

Bagi penelitian tentang dampak lingkungan beracun, perbedaan antara mutasi dan seleksi penting. Mutasi berarti perubahan pada materi genetik, sedangkan seleksi alam dapat membuat variasi yang sudah ada lebih umum jika membantu organisme bertahan hidup dan berkembang biak. Hanyutan genetik, sebaliknya, mengubah frekuensi variasi secara acak.

Matthew Breen, ahli genetika dari North Carolina State University, menekankan bahwa hasil ini tidak serta-merta berarti paparan lingkungan mengubah genom anjing agar mereka beradaptasi. Kemungkinan lain, anjing yang bertahan dari paparan awal telah memiliki keragaman genetik dan variasi yang mendukung peluang hidup mereka.

Seleksi alam masih perlu diuji

Jika sebagian anjing memang memiliki variasi yang membantu mereka bertahan, keturunannya dapat mewarisi keunggulan itu. Dalam jangka panjang, proses tersebut bisa membuat variasi tertentu lebih banyak ditemukan pada populasi. Peneliti menyebut kemungkinan ini sebagai seleksi terarah.

Namun, tim belum memastikan apakah tanda genom yang ditemukan benar-benar membuktikan seleksi. Mereka juga belum dapat memastikan bahwa variasi tersebut memberi perlindungan terhadap kanker, memperkuat respons kekebalan, atau meningkatkan ketahanan terhadap paparan zat beracun.

Karena itu, hasil penelitian ini bukan bukti bahwa radiasi membuat anjing Chernobyl kebal. Temuan tersebut lebih terbatas: pola perbedaan genom tampak terkait dengan wilayah gen yang punya fungsi biologis, dan seleksi menjadi salah satu penjelasan yang sedang diteliti.

Penelitian berikutnya perlu menguji hubungan antara variasi gen, paparan lingkungan, dan kemampuan bertahan hidup. Dari sana, para peneliti dapat menilai lebih jelas apakah perbedaan yang terlihat pada anjing di sekitar pembangkit memang mencerminkan proses seleksi alam.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Hari Pahlawan 2026: Selasa 10 November, Kisah Surabaya dan Status Tema Kemensos