Sabtu, 31 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Harga Emas Jatuh 3,6% ke US$ 3800, Terburuk Setahun! Bisa ke US$3.600?

Harga Emas Jatuh 3,6% ke US$ 3800, Terburuk Setahun! Bisa ke US$3.600?
Harga Emas Jatuh 3,6% ke US$ 3800, Terburuk Setahun! Bisa ke US$3.600?

JAKARTA — Harga emas dunia anjlok 3,6% dan ditutup di US$ 3875,03 per troy ons pada Jumat (30/10/2026), level terendah dalam lebih dari setahun. Pelemahan tajam ini memperpanjang penurunan harga emas dan memunculkan proyeksi bahwa harganya bisa turun ke US$3.600 pada akhir 2027.

Merujuk data Refinitiv, harga penutupan Jumat menjadi yang terendah sejak 2 Oktober 2025, ketika emas berada di US$ 3.856,01 per troy ons. Dalam dua hari, harga emas telah merosot 4,7%.

Penurunan itu berdampak langsung pada nilai aset investor yang memegang emas, sementara prospek pemulihan masih dibayangi inflasi dan kemungkinan suku bunga Amerika Serikat bertahan tinggi. Emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga daya tariknya berkurang ketika aset berbunga menawarkan prospek lebih menarik.

Mengapa harga emas terus tertekan?

Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang belum mereda. Pasar pun memperkirakan bank sentral akan mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, sebuah kondisi yang menekan logam mulia.

Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, mengatakan kekhawatiran inflasi mendorong sejumlah bank sentral mempertahankan sikap hawkish.

“Kekhawatiran yang terus berlanjut terhadap inflasi membuat sejumlah bank sentral cenderung mengambil sikap lebih hawkish atau mengetatkan kebijakan moneter,” ujar Grant, dikutip dari Refinitiv.

Bank sentral utama memang menahan suku bunga pada pekan itu. Namun, Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) sama-sama menyoroti risiko inflasi yang datang dari kenaikan biaya energi. Data yang dirilis Kamis juga menunjukkan inflasi AS meningkat pada September, saat konsumen membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang.

Situasinya belum ringan. Perkiraan ekonom bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada Desember ikut memperkuat tekanan terhadap emas. Grant mengatakan sinyal dari bank sentral menunjukkan suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama, sehingga menekan harga logam mulia.

Emas jatuh bersama saham teknologi

Penurunan saham teknologi turut menambah tekanan. Analis Commerzbank menilai aksi jual tajam di sektor itu berpotensi memicu penjualan paksa dan margin call, yakni permintaan broker agar investor menambah jaminan ketika nilai asetnya turun.

Pergerakan ini membuat emas tidak berperan sebagai penopang saat saham teknologi melemah. Pekan ini, harga emas turun bersama saham teknologi, bahkan ketika imbal hasil obligasi melemah. Commerzbank menilai koreksi logam mulia sudah terlalu dalam dan masih memperkirakan harga dapat pulih.

“Kami menilai penurunan harga logam mulia terlalu dalam dan masih memperkirakan harga akan pulih,” ujar Commerzbank.

Permintaan fisik di Asia juga belum memberi dorongan berarti. Pembeli di India menunda transaksi karena memperkirakan harga masih dapat turun, sedangkan permintaan di China, konsumen emas terbesar dunia, tetap lesu.

Seberapa jauh harga emas bisa turun?

Harga emas spot telah menghapus kenaikan yang dibukukan selama setahun terakhir. Logam mulia itu diperdagangkan sedikit di bawah US$4.000 per troy ons, setara level sekitar Halloween tahun lalu dan sekitar 25% di bawah puncaknya pada akhir Februari.

Kieran Tompkins, Ekonom Senior Iklim dan Komoditas Capital Economics, memperkirakan tekanan masih berlanjut. Perusahaan itu menilai perubahan sinyal The Fed ke arah kebijakan lebih hawkish menjadi risiko bagi emas. Dua pejabat bank sentral AS berbeda pendapat karena menginginkan kebijakan yang lebih ketat.

Capital Economics memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga dua kali lagi, sejalan dengan ekspektasi pasar berjangka. Menurut tim ekonomi AS perusahaan itu, risikonya cenderung mengarah pada kenaikan suku bunga yang lebih besar.

Perubahan hubungan antara emas dan imbal hasil Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor 10 tahun juga menjadi perhatian. Secara historis, keduanya cenderung bergerak berlawanan arah. Pola itu bertahan selama delapan bulan pertama tahun ini, tetapi terputus dalam dua bulan terakhir.

Capital Economics menyebut pelemahan dolar AS dalam waktu singkat pada awal September dan pembelian emas oleh bank sentral, khususnya China, sempat menopang harga. Ke depan, tim pasar perusahaan itu juga melihat potensi pecahnya gelembung saham AI pada tahun depan sebagai ancaman lain.

Proyeksi Capital Economics menempatkan harga emas di US$3.600 per troy ons pada akhir 2027. Angka itu jauh di bawah konsensus pasar yang memperkirakan harga sekitar US$4.600 pada kuartal IV-2027.

Selisih proyeksi tersebut menunjukkan betapa berbedanya pandangan mengenai arah emas setelah penurunan tajam. Bagi investor, gabungan inflasi, energi mahal, dan perkiraan suku bunga tinggi menjadi faktor yang perlu dicermati ketika menilai risiko harga.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair