Minggu, 1 November 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Data Center Tekan Air Lokal, 25% Berada di Wilayah Langka

Data center dan sumber air lokal yang juga dipakai warga
Fasilitas data center membutuhkan air untuk menjaga suhu peralatan dan menjalankan operasional. (Ilustrasi: AI)

Dampaknya terasa pada layanan yang menopang aktivitas sehari-hari. Infrastruktur komputasi awan dipakai untuk memproses permintaan AI, menyimpan foto dan video, serta menjalankan layanan streaming musik. Namun, air untuk mendinginkan perangkat tersebut berasal dari sumber setempat yang juga menopang kehidupan masyarakat dan produksi pangan.

Risiko itu belum tentu pertama-tama berupa terganggunya operasi data center. Para peneliti menilai pengguna air lain dalam daerah aliran sungai yang sama dapat menghadapi tekanan, sebab perusahaan teknologi biasanya punya kapasitas keuangan dan prioritas kelembagaan untuk mengamankan pasokan selama air masih tersedia.

Bagaimana perubahan iklim mengubah risikonya?

Proyeksi tekanan air tidak sama di setiap negara. Model penelitian menunjukkan sebagian besar lokasi data center di Amerika Serikat yang berpotensi melewati ambang tekanan air akibat kenaikan suhu berada di negara itu. Inggris dan Jerman diperkirakan tidak mengalami perubahan besar.

Perbedaan tersebut membuat kondisi air lokal penting saat menentukan lokasi pembangunan. Kenaikan suhu global dan bertambahnya kebutuhan air untuk pendinginan dapat memperbesar tekanan di sejumlah kawasan, tetapi dampaknya bergantung pada pasokan setempat. Karena itu, angka global tidak otomatis menggambarkan keadaan setiap daerah.

Pengukuran juga belum sebanding dengan data energi. “Jejak penggunaan energi data center telah diukur secara terperinci karena konsumsi listrik dicatat dan dilaporkan. Kelangkaan air diukur secara lokal, dengan metode yang tidak konsisten, dan sering kali tidak diukur sama sekali,” ujar Rosa.

Para peneliti membuat peta tersebut karena sebelumnya belum tersedia pemetaan yang mereka butuhkan. Kesenjangan pengukuran ini menyulitkan masyarakat dan pemerintah untuk menilai seberapa besar kebutuhan fasilitas serta bagaimana dampaknya pada sumber air bersama.

Transparansi dan pilihan pendinginan jadi perhatian

Perusahaan teknologi besar yang mengoperasikan data center belum mengungkap secara terperinci kebutuhan air dan dampaknya terhadap sumber daya alam. Pelaporan yang lebih terbuka dinilai dapat membantu pemantauan, meski upaya itu kemungkinan memerlukan peran regulator dan pemerintah.

Peneliti juga melihat peluang mengurangi tekanan pada air tawar. Data center dapat memanfaatkan air limbah atau air laut yang sudah diolah, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan panas. Pilihan itu menjadi penting ketika fasilitas berada dekat sumber air yang juga digunakan warga dan petani.

Dampak nyata tekanan air terhadap operasi data center maupun pengguna lain masih perlu diteliti lebih lanjut. Para peneliti menulis bahwa keberlanjutan operasi jangka panjang akan bergantung pada keputusan lokasi dan tata kelola yang memperhitungkan batas ketersediaan air setempat.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru 13 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis