Minggu, 1 November 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Internet Bantu Petani Kakao Buol Menjaga Hasil Kebun

Internet Bantu Petani Kakao Buol Menjaga Hasil Kebun
Internet Bantu Petani Kakao Buol Menjaga Hasil Kebun

BUOL — Internet membantu Wayan Sudiarsa merawat kebun kakao seluas 0,75 hektare di Desa Langudon, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, sejak jaringan 4G masuk pada 2022. Dari satu ponsel yang dipakai bersama istrinya, Iloh, pasangan ini kini mencari informasi budidaya sekaligus memantau harga kakao.

Perubahan itu terasa langsung di desa pegunungan yang sebagian besar warganya bertani. Dari 120 kepala keluarga di Langudon, 100 orang bekerja sebagai petani. Bagi Wayan dan Iloh, koneksi internet bukan sekadar memudahkan komunikasi: layar ponsel ikut membantu keputusan soal kebun dan penjualan hasil panen.

Bagaimana internet membantu petani kakao Buol?

Wayan biasanya mulai bekerja sekitar pukul 05.00 WITA. Ia memeriksa 300 pohon kakao, memangkas daun yang perlu dirapikan, mengoleskan pestisida untuk mencegah penggerek buah kakao (PBK), lalu memilih buah yang siap dipetik. Pekerjaan kebun umumnya selesai sekitar pukul 09.00 WITA.

Namun, urusan pasar lebih banyak ditangani Iloh. Ia menghubungi pengepul, mengecek harga, dan mengikuti pergerakan kurs dolar AS yang memengaruhi harga kakao. Dengan begitu, ponsel yang digunakan berdua menjadi alat kerja rumah tangga tani, bukan hanya sarana berkirim pesan.

Wayan memakai internet untuk belajar. Ia mencari video tentang perawatan kakao dan penanganan hama di YouTube, lalu melengkapi informasi itu dengan bimbingan penyuluh pertanian setempat. Sejak jaringan tersedia, ia juga mencoba membuat pupuk organik dari bahan dapur untuk tanaman mangga di pekarangan.

“Lumayan hasilnya buat coba-coba. Tapi kalau untuk pupuk kakao, lebih baik beli,” ujar Wayan.

Hama kakao mendorong petani mencari cara baru

PBK menjadi masalah serius bagi petani di Langudon sejak sekitar 2010. Hama itu merusak bagian dalam buah dan menurunkan kualitas biji. Kerusakan tersebut pernah membuat sejumlah petani memilih menebang pohon kakao.

Petani kemudian mengembangkan cara budidaya yang lebih sesuai dengan kondisi kebun. Salah satunya menggunakan varietas BR-25, yang batangnya lebih pendek sehingga petani lebih mudah mengoleskan obat pembasmi hama. Mereka juga menerapkan sambung pucuk, dengan menggabungkan batang bawah kakao lokal dan batang atas BR-25.

Informasi dari internet memberi Wayan tambahan bahan untuk mencoba teknik dan memahami perawatan tanaman. Tetapi, pengalaman di kebun dan arahan penyuluh tetap menjadi bagian dari proses. Bagi petani, video di ponsel berguna saat bisa diterapkan pada persoalan nyata—misalnya mengatasi hama atau merawat pohon agar tetap produktif.

Langudon menerima jaringan melalui infrastruktur BTS 4G BAKTI Komdigi pada 2022. Akses itu membuka jalur bagi warga untuk mencari pengetahuan pertanian dan informasi pasar tanpa harus meninggalkan desa untuk setiap kebutuhan.

Panen kebun ikut menopang pendapatan keluarga

Kebun Wayan dapat menghasilkan panen raya seminggu sekali, dengan hasil terbanyak mencapai 40 kg. Buah yang dipetik perlu dikeringkan sebelum dibawa ke Kota Buol, sekitar 25 km dari Langudon, untuk dijual.

Iloh biasanya pergi ke kota dua kali sebulan dengan sepeda motor. Setiap perjalanan, ia rata-rata membawa pulang uang Rp2-4 juta, menurut Wayan. Kebiasaan membandingkan harga dan berkomunikasi dengan pengepul membantu keluarga itu mengelola penjualan hasil kebun.

Dampaknya tidak berhenti pada kakao. Iloh juga mempromosikan kue bolu lewat Telegram saat ingin berjualan. Pesanan kadang datang dalam jumlah besar untuk hajatan di desa, sementara penjualan rutin memberi tambahan penghasilan rata-rata Rp100.000 seminggu.

Bagi keluarga petani, tambahan pemasukan dari usaha kecil dapat berjalan berdampingan dengan hasil kebun. Internet membuat promosi kue bisa menjangkau desa tetangga, sementara panggilan video di Telegram membantu Wayan dan Iloh tetap berhubungan dengan tiga anak perempuan mereka yang tinggal di Kota Palu, Kota Buol, dan Bali.

Dari transmigrasi hingga kebun kakao

Wayan, yang kini berusia 52 tahun, berasal dari Bali dan pindah ke Sulawesi Tengah melalui program transmigrasi pemerintah pada 1996. Lahan yang ia garap menjadi sumber penghidupan keluarganya. Puluhan keluarga transmigran dari Jawa dan Bali juga menetap turun-temurun di Langudon dan ikut melanjutkan tradisi bertani kakao.

Komoditas yang kerap disebut “emas cokelat” itu tetap menuntut perawatan telaten. Jalan menuju kebun Wayan berbatu dan terjal, hanya mudah dilalui pengendara motor yang terbiasa dengan medan setempat. Pekerjaan dimulai sebelum matahari tinggi, dari memeriksa tanaman sampai menentukan buah yang sudah waktunya dipetik.

Di antara petani Langudon, ada pula Wayan Adiatmika, 33 tahun, yang menggarap lahan seluas 6 hektare, termasuk kebun kakao. Dari 100 petani di desa itu, 35 orang membudidayakan kakao. Kehadiran petani muda dan penggunaan internet menambah cara warga memperoleh pengetahuan, sementara kebun tetap menjadi pusat penghidupan mereka.

Wayan Sudiarsa dan Iloh masih berbagi satu ponsel. Dari perangkat itu, Iloh mengurus penjualan dan promosi, sedangkan Wayan belajar merawat tanaman. Berikutnya, hasil percobaan dan informasi harga yang mereka dapatkan akan kembali diuji di kebun serta di perjalanan menuju pasar Buol.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru 13 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis