Senin, 2 November 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Perencanaan Energi Indonesia Dituntut Siap Hadapi Perubahan

Perencanaan Energi Indonesia Dituntut Siap Hadapi Perubahan
Perencanaan Energi Indonesia Dituntut Siap Hadapi Perubahan

JAKARTA — Perencanaan energi Indonesia perlu dirancang agar tetap andal ketika kebutuhan, teknologi, dan lokasi pertumbuhan industri berubah dari proyeksi. Tantangannya terasa nyata: pembangunan infrastruktur energi berumur puluhan tahun, sementara asumsi yang menjadi dasar investasinya dapat berubah jauh lebih cepat.

Karena itu, keberhasilan tidak cukup diukur dari kapasitas pembangkit yang terbangun. Jaringan, penyimpanan, dan kemampuan mengatur pasokan juga menentukan apakah listrik tersedia di tempat dan waktu yang dibutuhkan.

Target kapasitas perlu ditopang sistem yang siap

Agenda pembangunan energi Indonesia memiliki skala besar. RUPTL 2025-2034 merencanakan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 69,5 gigawatt (GW), sedangkan pengembangan PLTS 100 GWp mencerminkan ambisi memperluas pemanfaatan tenaga surya.

Kedua agenda itu dapat memperkuat pasokan listrik dan mendukung industrialisasi. Namun, kapasitas baru tidak otomatis menjadi pasokan yang andal. Pembangkit harus tersambung ke jaringan transmisi yang memadai, didukung penyimpanan energi dan fleksibilitas operasi, serta sesuai dengan pola permintaan.

Di sinilah perencanaan perlu melihat seluruh komponen sebagai satu sistem. Menambah pembangkit tanpa memastikan listriknya dapat disalurkan dan digunakan berisiko mengurangi manfaat investasi. Pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak kapasitas yang dibangun, tetapi juga apakah jaringan dan pengelolaan pasokan berkembang sejalan.

Mengapa perencanaan energi perlu siap menghadapi banyak skenario?

Proyeksi permintaan tetap dibutuhkan untuk memperkirakan kebutuhan listrik dan mencegah kekurangan pasokan. Tetapi proyeksi menggambarkan kemungkinan, bukan kepastian. Perubahan teknologi dan struktur ekonomi bisa membuat kebutuhan tumbuh dengan arah berbeda.

Kendaraan listrik, pusat data, kecerdasan buatan, hilirisasi mineral, dan manufaktur dapat mendorong permintaan dalam skala serta kecepatan yang tidak sama. Efisiensi teknologi, sebaliknya, bisa menekan konsumsi di sektor tertentu. Industri baru juga dapat tumbuh di lokasi yang sebelumnya tidak diperkirakan menjadi pusat permintaan.

Perencanaan yang bertumpu pada satu jalur pertumbuhan akan lebih rentan ketika kenyataan melenceng. Sistem yang mampu menyesuaikan keputusan—misalnya saat lokasi industri atau pola konsumsi berubah—punya peluang lebih besar menjaga keandalan pasokan sekaligus menghindari infrastruktur yang kurang termanfaatkan.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

Uji dirimuTes Logika Ringan: 10 Soal Asah Otak, Berapa Skormu? →
TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru 13 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis