KALIMANTAN TIMUR — Produksi gas Lapangan Maha di lepas pantai Kalimantan Timur telah dimulai dan ditargetkan meningkat bertahap hingga 230 juta standar kaki kubik per hari. Pasokan dari proyek laut dalam ini akan masuk ke fasilitas produksi Jangkrik.
Lapangan Maha mulai mengalirkan gas pada Jumat (30/10), menurut keterangan Searah pada Selasa (3/11). Proyek yang dikelola perusahaan patungan Petronas dan ENI itu berada di Wilayah Kerja West Ganal, sekitar 100 kilometer dari Balikpapan.
Bagi pengelolaan gas di kawasan tersebut, produksi baru ini menambah pasokan yang dapat diproses di FPU Jangkrik. Searah memperkirakan produksi puncak South Hub, setelah mendapat tambahan dari Maha dan pengembangan lapangan lain, mencapai sekitar 750 MMSCFD.
Produksi gas Maha terhubung ke fasilitas Jangkrik
Lapangan Maha berada sekitar 12 kilometer di sebelah tenggara Floating Production Unit (FPU) Jangkrik. Gas dari lapangan itu dialirkan melalui jaringan pipa fleksibel dan umbilical sepanjang sekitar 12 kilometer.
Pengembangannya mencakup dua sumur produksi bawah laut. Fasilitas subsea yang menghubungkan sumur dengan sistem produksi telah rampung dipasang pada awal tahun ini, sebelum produksi perdana dimulai.
Skema tersebut membuat produksi Maha terhubung langsung dengan fasilitas pengolahan yang sudah tersedia di Jangkrik. Bagi operasi South Hub, tambahan gas dapat dimanfaatkan melalui kapasitas pengolahan FPU itu, sejalan dengan rancangan pengembangan kawasan.
Bagaimana Maha mendukung target South Hub?
Searah menempatkan Maha sebagai salah satu bagian utama strategi South Production Hub, bersama Lapangan Gendalo dan Gandang. Perusahaan mengarahkan pengembangan ketiga lapangan itu untuk mengoptimalkan kapasitas pengolahan gas di FPU Jangkrik.
Target produksi Maha sebesar 230 MMSCFD akan dicapai secara bertahap, bukan sekaligus sejak hari pertama. Sementara itu, perkiraan plateau South Hub sekitar 750 MMSCFD mencakup kontribusi Maha dan pengembangan lapangan lainnya.
Angka tersebut memberi gambaran skala pengembangan kawasan, tetapi bukan target produksi Lapangan Maha sendiri. Perbedaan antara sasaran lapangan dan proyeksi hub penting untuk membaca dampak proyek: Maha menambah pasokan, sedangkan pengolahan dan capaian gabungan bergantung pada keseluruhan pengembangan South Hub.
Proyek ini juga menambah kegiatan hulu migas Searah di Indonesia dan melengkapi pengembangan South Hub serta North Hub di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur. Portofolio perusahaan saat ini mencakup 19 aset minyak dan gas bumi di Malaysia dan Indonesia, dengan kegiatan produksi, pengembangan, serta eksplorasi.
CEO Searah Muara Bakau Mirko Araldi menyebut produksi perdana itu sebagai tonggak pengembangan gas laut dalam di Indonesia. Ia mengatakan proyek kompleks tersebut diselesaikan dengan aman dan tepat waktu, setelah fasilitas bawah laut selesai dipasang.
“Keberhasilan menuntaskan proyek pengembangan lepas pantai laut dalam yang kompleks secara aman dan tepat waktu membuktikan apa yang dapat dicapai melalui tujuan bersama dan eksekusi yang unggul,” ujar Araldi dalam keterangan resmi pada Selasa (3/11).
Produksi kini memasuki tahap peningkatan bertahap, dengan sasaran Lapangan Maha mencapai 230 MMSCFD.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.