JAKARTA — IHSG menghadapi tekanan aksi jual investor asing pada pembukaan perdagangan Selasa (3/11), dengan proyeksi pergerakan yang berbeda dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia dan MNC Sekuritas. Perbedaan rentang prediksi membuat level indeks dan sentimen pasar menjadi perhatian investor.
Mirae Asset memperkirakan IHSG bergerak pada level 4.969-4.907. Sementara itu, MNC Sekuritas menilai indeks berpeluang melemah ke 4.763-4.845 atau menguat menuju 5.456–5.564, bergantung pada skenario pergerakannya.
IHSG dibayangi aksi jual investor asing
Tekanan itu muncul setelah IHSG ditutup menguat pada perdagangan Senin (2/11). Indeks naik 39,78 poin atau 0,79 persen ke level 5.096,83, tetapi penguatan tersebut belum menghapus kekhawatiran atas konsistensi jual bersih investor asing.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan indeks memang mengalami pemulihan secara teknikal. Namun, sejumlah indikator belum menunjukkan sinyal yang seragam.
“Secara teknikal, pergerakan IHSG berhasil mengalami rebound meskipun dibayangi ketidakpastian di tengah sinyal dari beberapa indikator yang bervariasi (mixed). Sinyal Stochastics K-D menunjukkan pergerakan negatif dan volume mengalami penurunan,” kata Nafan dalam keterangannya, Selasa (3/11).
Dengan demikian, kenaikan pada sesi sebelumnya belum serta-merta menandakan tekanan berakhir. Bagi investor, perbedaan proyeksi juga menunjukkan rentang risiko yang lebar: arah indeks masih dapat dipengaruhi kondisi teknikal dan perkembangan sentimen pasar.
Apa pemicu utama pergerakan IHSG?
Di dalam negeri, Nafan menyoroti reformasi pasar modal, arus jual investor asing, kestabilan rupiah, serta penantian evaluasi MSCI berikutnya pada 11 November 2026. Tekanan dari faktor-faktor itu dapat membentuk persepsi investor terhadap risiko pasar domestik.
Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 18.156 per dolar AS. Nafan menilai pelemahan rupiah dapat menambah tantangan bagi IHSG, terutama ketika investor asing masih konsisten mencatatkan jual bersih harian.
Perhatian pasar juga tertuju pada pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026. Menurut Nafan, agenda itu menjadi katalis yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar global.
Harga minyak mentah Brent yang sempat turun sekitar 7,6 persen ke USD 104,81 per barel memberi sentimen positif. Penurunan itu meredakan sebagian kekhawatiran terhadap tekanan inflasi energi, meski tidak menghapus faktor risiko lain yang membayangi perdagangan saham.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.