Selasa, 3 November 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

IHSG Tertekan Jual Asing, Analis Pasang Target Berbeda

IHSG melemah dibayangi aksi jual asing di pasar saham Indonesia
Pergerakan IHSG dipengaruhi aksi jual asing, nilai tukar rupiah, dan sentimen global. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — IHSG menghadapi tekanan aksi jual investor asing pada pembukaan perdagangan Selasa (3/11), dengan proyeksi pergerakan yang berbeda dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia dan MNC Sekuritas. Perbedaan rentang prediksi membuat level indeks dan sentimen pasar menjadi perhatian investor.

Mirae Asset memperkirakan IHSG bergerak pada level 4.969-4.907. Sementara itu, MNC Sekuritas menilai indeks berpeluang melemah ke 4.763-4.845 atau menguat menuju 5.456–5.564, bergantung pada skenario pergerakannya.

IHSG dibayangi aksi jual investor asing

Tekanan itu muncul setelah IHSG ditutup menguat pada perdagangan Senin (2/11). Indeks naik 39,78 poin atau 0,79 persen ke level 5.096,83, tetapi penguatan tersebut belum menghapus kekhawatiran atas konsistensi jual bersih investor asing.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan indeks memang mengalami pemulihan secara teknikal. Namun, sejumlah indikator belum menunjukkan sinyal yang seragam.

“Secara teknikal, pergerakan IHSG berhasil mengalami rebound meskipun dibayangi ketidakpastian di tengah sinyal dari beberapa indikator yang bervariasi (mixed). Sinyal Stochastics K-D menunjukkan pergerakan negatif dan volume mengalami penurunan,” kata Nafan dalam keterangannya, Selasa (3/11).

Dengan demikian, kenaikan pada sesi sebelumnya belum serta-merta menandakan tekanan berakhir. Bagi investor, perbedaan proyeksi juga menunjukkan rentang risiko yang lebar: arah indeks masih dapat dipengaruhi kondisi teknikal dan perkembangan sentimen pasar.

Apa pemicu utama pergerakan IHSG?

Di dalam negeri, Nafan menyoroti reformasi pasar modal, arus jual investor asing, kestabilan rupiah, serta penantian evaluasi MSCI berikutnya pada 11 November 2026. Tekanan dari faktor-faktor itu dapat membentuk persepsi investor terhadap risiko pasar domestik.

Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 18.156 per dolar AS. Nafan menilai pelemahan rupiah dapat menambah tantangan bagi IHSG, terutama ketika investor asing masih konsisten mencatatkan jual bersih harian.

Perhatian pasar juga tertuju pada pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026. Menurut Nafan, agenda itu menjadi katalis yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar global.

Harga minyak mentah Brent yang sempat turun sekitar 7,6 persen ke USD 104,81 per barel memberi sentimen positif. Penurunan itu meredakan sebagian kekhawatiran terhadap tekanan inflasi energi, meski tidak menghapus faktor risiko lain yang membayangi perdagangan saham.

Fundamental domestik jadi penopang

Di tengah tekanan pasar, sejumlah indikator domestik masih memberi dukungan. Inflasi per Oktober melandai ke level 3,23 persen secara tahunan, sementara neraca perdagangan per September mencatat surplus USD 3,36 miliar.

Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur juga berada di area ekspansif. Angkanya naik menjadi 54,0 pada Oktober dari sebelumnya 52,4.

Namun, fundamental ekonomi dan kepercayaan terhadap pasar saham bukan persoalan yang sama. Dalam konteks aksi jual asing, investor domestik tetap perlu mencermati faktor pasar modal yang disebut Nafan, termasuk reformasi dan evaluasi MSCI, bukan hanya indikator ekonomi.

Catatan pembanding mengenai arus dana asing menyebut jual bersih Rp 4,2 triliun dalam sepekan dan akumulasi sekitar Rp 127 triliun sepanjang tahun berjalan. Angka tersebut memberi konteks tentang kuatnya perhatian terhadap arus modal, tetapi bukan angka yang disampaikan Nafan dalam proyeksi perdagangan Selasa.

Perbedaan itu penting dibaca dengan cermat. Proyeksi indeks untuk satu sesi tidak sama dengan ukuran arus dana dalam rentang waktu yang lebih panjang; keduanya menggambarkan aspek pasar yang berbeda.

Saham pilihan sekuritas untuk perdagangan Selasa

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memasukkan BUMI, DEWA, dan MDKA dalam daftar saham rekomendasinya untuk Selasa (3/11). MNC Sekuritas merekomendasikan BBRI, ESSA, MAPA, dan PGEO.

MNC Sekuritas menyusun dua kemungkinan arah berdasarkan analisis gelombang. Pada skenario yang membuka peluang penguatan, IHSG dinilai dapat menuju 5.456–5.564; dalam skenario koreksi, indeks berpotensi bergerak ke 4.763-4.845.

Daftar saham dan proyeksi tersebut merupakan pandangan sekuritas, bukan kepastian hasil perdagangan. Keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab masing-masing investor dan berita ini bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual produk investasi.

Nafan menegaskan tekanan pasar masih berkaitan dengan arus jual asing dan nilai tukar. “Tekanan terhadap IHSG masih cukup besar karena konsistensi net sell asing secara harian. Selain itu, pelemahan rupiah yang berada di kisaran Rp 18.156 per dolar AS turut menjadi tantangan karena dapat meningkatkan persepsi risiko investasi di pasar domestik,” jelasnya.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

Uji dirimuTes Logika Ringan: 10 Soal Asah Otak, Berapa Skormu? →
TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair