Rabu, 4 November 2026 WIB
TEKNOLOGI

Bandara Pintar: AI dan Robot Ubah Layanan Penerbangan

Bandara Pintar
Bandara Pintar

BANGKOK — Sky ICT menyebut bandara pintar berbasis AI, analitik data, otomasi, robotika, dan biometrik sebagai arah baru industri penerbangan global. Perubahan ini menyasar dua hal yang langsung dirasakan penumpang: layanan yang lebih sesuai kebutuhan dan operasional bandara yang lebih terkoordinasi.

Chief executive Sky ICT Sithidej Mayalarp mengatakan penggabungan data dari berbagai pemangku kepentingan dapat memberi semua pihak gambaran operasional yang sama. Dengan informasi yang terhubung, koordinasi kegiatan bandara diharapkan berjalan lebih efektif.

Teknologi itu bukan sebatas layar informasi. Robot humanoid dapat membantu memberi petunjuk kepada penumpang, sedangkan robot konvensional dapat memindahkan bagasi dan paket melalui sistem konveyor.

Bagaimana bandara pintar mengubah operasional?

Peralihan menuju bandara pintar diperkirakan berlangsung melalui tiga tahap, mulai dari analisis data hingga pengoperasian bandara yang lebih mandiri. Setiap tahap mengandalkan integrasi sistem untuk membantu pengelola mengambil keputusan dan mengatur layanan.

Tahap pertama berfokus pada analisis dan prediksi. Data dari beragam sistem bandara dihimpun melalui pusat data penerbangan untuk memperkirakan tren dan kemungkinan situasi operasional. Hasilnya dapat mendukung keputusan yang lebih tepat serta meningkatkan efisiensi pengelolaan.

Tahap berikutnya menggabungkan layanan personal dengan kecerdasan prediktif. AI dapat menganalisis data untuk menyusun layanan yang menyesuaikan preferensi penumpang, sekaligus membantu mengenali risiko operasional dan kebutuhan perawatan sebelum gangguan terjadi.

Pengelolaan penerbangan juga dapat memanfaatkan analisis data operasi pesawat dan kondisi teknisnya. Tim perawatan dapat mengenali potensi masalah lebih awal, lalu merencanakan tindakan pencegahan. Tujuannya mengurangi kemungkinan kegagalan teknis dan mendukung keselamatan penerbangan.

Apa dampak bandara pintar bagi penumpang?

Pada tahap ketiga, bandara otonom akan memperluas penggunaan otomasi, sistem biometrik, dan robotika. Bagi penumpang, perubahan itu dapat membuat proses di bandara lebih lancar; bagi pengelola, integrasi data dan prediksi memberi alat untuk menata operasi ketika jumlah pengguna meningkat.

Manfaatnya bergantung pada koordinasi antarsistem. Data yang terpencar menyulitkan pihak berbeda membaca kondisi operasional secara seragam. Sebaliknya, gambaran bersama membantu mereka menyelaraskan pekerjaan, sementara prediksi risiko memberi ruang untuk melakukan perawatan lebih awal.

Mayalarp mengatakan otomasi diterapkan untuk membantu fasilitas bandara menampung pertumbuhan jumlah penumpang. Robot layanan dapat memberi informasi dan arahan seperti petugas, sementara robot pengangkut membantu pergerakan barang di area bagasi.

Thailand membidik peran sebagai hub penerbangan

Sky ICT menilai perkembangan teknologi penerbangan membuka peluang bagi Thailand untuk memperkuat ambisi sebagai hub regional. Mayalarp mengatakan kepercayaan terhadap teknologi digital bandara dan standar operasional negara itu terus tumbuh.

Thailand telah membentuk Flight Operations Center of Excellence dengan dukungan platform Skywise milik Airbus. Pusat tersebut mendukung operasi penerbangan digital regional melalui kerja sama dengan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional.

Negara itu juga memperluas infrastruktur bandara. Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas dalam menangani sekitar 150-200 juta penumpang setiap tahun. Letak Thailand yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Eropa, dan Australia turut memberi peluang bagi pengembangan transit internasional serta angkutan kargo udara.

Teknologi lain yang mulai membentuk peluang bisnis ialah pesawat listrik lepas landas dan mendarat vertikal, atau eVTOL. Menurut Mayalarp, layanan penumpang eVTOL telah beroperasi di China dan Amerika Serikat, dengan kapasitas antara satu hingga enam penumpang untuk setiap penerbangan.

Untuk logistik, pesawat jenis ini dapat mengantar barang ke wilayah terpencil atau sulit dijangkau, termasuk daerah pegunungan. eVTOL juga dapat mendukung operasi darurat, misalnya penyelamatan orang yang terjebak di gedung tinggi.

Kapan robot humanoid mulai diuji di bandara?

Sky ICT berencana memulai uji coba robot humanoid di Bandara Suvarnabhumi menjelang akhir tahun ini. Robot itu akan memberikan layanan kepada penumpang sebagai bagian dari pengembangan teknologi perusahaan.

Mayalarp mengatakan Sky ICT telah berfokus selama satu dekade terakhir pada penerapan teknologi penerbangan pintar di bandara-bandara Thailand. Perusahaan tersebut kini berencana meningkatkan pengembangan teknologinya.

“Perkembangan ini membuka peluang bagi Thailand untuk memajukan ambisinya menjadi hub penerbangan regional,” kata Sithidej Mayalarp, chief executive Sky ICT.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuTes Hitungan dan Logika Cepat: 10 Soal Jebakan Otak, Berapa Skormu? →
TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru 13 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis