Sabtu, 7 November 2026 WIB
KULINER

Resep Gudeg Jogja: Nangka Muda, Gula Jawa, dan Areh yang Pelan-pelan Mengental

Ilustrasi dua piring gudeg, versi Jogja yang cokelat kemerahan dan versi Solo yang lebih keputihan, dengan telur, ayam, dan
Ilustrasi dua piring gudeg, versi Jogja yang cokelat kemerahan dan versi Solo yang lebih keputihan, dengan telur, ayam, dan ketupat di atas meja kayu. (Ilustrasi: AI)

Ringkasan cepat

  • Untuk 6 porsi: 1 kg nangka muda, 200 g gula jawa, telur rebus, areh, dan sambal goreng krecek.
  • Butuh 30 menit persiapan dan sekitar 3 jam memasak; dengan panci presto, tahap merebus nangka jauh lebih singkat.
  • Warna cokelat kemerahan datang dari daun jati dan gula jawa, jadi jangan buru-buru membesarkan api.
  • Areh matang saat santan kental menyusut sekitar 60 persen dan minyaknya mulai keluar.

Nangka muda masuk ke panci dengan warna pucat. Tiga jam kemudian ia keluar cokelat kemerahan, legit, dan cukup lembut untuk dipotong dengan sendok. Di antara dua momen itu, dapur pelan-pelan dipenuhi wangi gula jawa yang bertemu daun salam.

Gudeg memang masakan yang tidak suka diburu. Apinya kecil, tutup panci jarang dibuka, dan pekerjaan Anda lebih banyak menunggu daripada mengaduk. Telur ikut direbus sampai cokelat, sementara areh dimasak terpisah sampai kental dan gurih.

Resep ini mengikuti gaya Jogja yang manis dan agak kering, lengkap dengan areh dan sambal goreng krecek. Pedas dan gurih krecek itulah yang menjaga sepiring gudeg tidak terasa terlalu manis.

Resep Gudeg Jogja dengan Areh dan Sambal Krecek

  • Porsi: 6 porsi
  • Persiapan: 30 menit
  • Memasak: 3 jam 10 menit

Bahan-bahan

Bahan gudeg

  • 1 kg nangka muda kupas, potong sekitar 4 cm
  • 1,5 liter air kelapa atau air biasa
  • 500 ml santan sedang
  • 200 g gula jawa, serut
  • 1,5 sdt garam
  • 8 lembar daun salam
  • 4 cm lengkuas, memarkan
  • 5 lembar daun jati, bila ada
  • 6 butir telur ayam, rebus dan kupas

Bumbu halus gudeg

  • 10 butir bawang merah
  • 6 siung bawang putih
  • 5 butir kemiri, sangrai
  • 2 sdt ketumbar bubuk

Areh

  • 500 ml santan kental
  • 1 batang serai, memarkan
  • 2 lembar daun salam
  • 2 sdt gula pasir
  • 1/2 sdt garam

Sambal goreng krecek

  • 100 g krecek, rendam air panas sampai lunak
  • 5 butir bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 5 buah cabai merah keriting
  • 3 butir kemiri, sangrai
  • 1/2 sdt terasi
  • 2 sdm minyak goreng
  • 2 lembar daun salam
  • 1 batang serai, memarkan
  • 1 cm lengkuas, memarkan
  • 500 ml santan sedang
  • 1 sdm gula jawa serut
  • 1 sdt air asam jawa
  • 1/2 sdt garam
  • 8 buah cabai rawit utuh

Cara membuat

  1. Susun panciAlasi dasar panci tebal dengan daun jati. Masukkan nangka, bumbu halus, gula jawa, garam, daun salam, lengkuas, dan telur rebus. Tuang air kelapa sampai bahan terendam.
  2. Rebus dengan api kecilDidihkan, lalu kecilkan api dan tutup panci. Masak sekitar 2 jam tanpa terlalu sering diaduk supaya nangka tidak hancur. Nangka akan layu, lembut, dan mulai berwarna cokelat kemerahan.
  3. Masukkan santanTuang santan sedang dan buka tutup panci. Masak sekitar 1 jam dengan api kecil, aduk sesekali dari dasar panci, sampai cairan hampir habis dan gudeg tampak mengilap. Hentikan lebih awal bila ingin gudeg basah. Buang daun jati dan lengkuas.
  4. Masak arehSambil menunggu, masukkan santan kental, serai, daun salam, gula, dan garam ke panci kecil. Masak dengan api kecil sambil terus diaduk sekitar 30 menit, sampai santan menyusut sekitar 60 persen, kental, dan minyaknya mulai keluar.
  5. Buat sambal goreng krecekBilas krecek yang sudah lunak, peras sekali dengan lembut. Haluskan bawang merah, bawang putih, cabai merah, kemiri, dan terasi, lalu tumis dengan minyak sampai harum dan matang. Masukkan daun salam, serai, dan lengkuas, disusul santan, krecek, gula jawa, air asam, dan garam. Masak sekitar 25 menit sampai kuah menyusut dan agak nyemek. Masukkan cabai rawit pada 5 menit terakhir.
  6. SajikanTata nasi panas di piring, tambahkan gudeg, telur, dan sambal krecek, lalu siram areh hangat di atasnya.

Tips

  • Olesi tangan dan pisau dengan sedikit minyak saat memotong nangka agar getahnya tidak lengket.
  • Tanpa daun jati gudeg tetap bisa dimasak, tetapi warnanya lebih cokelat muda dan tidak semerah gudeg Jogja.
  • Panci presto bisa memangkas tahap merebus dari sekitar 2 jam menjadi 45 menit. Lanjutkan dengan santan di panci terbuka seperti biasa.
  • Air kelapa membuat rasa nangka lebih kaya. Bila gudeg kurang manis, tambahkan gula jawa sedikit demi sedikit pada tahap santan.

Lahir dari hutan yang dibuka

Ada yang percaya gudeg lahir ketika Alas Mentaok, kini Kotagede, dibuka untuk permukiman yang kelak menjadi pusat Mataram Islam, sekitar pertengahan abad ke-16. Para pekerjanya memasak nangka dan kelapa dalam jumlah besar dan terus mengaduknya. Dari kata udeg, yang berarti mengaduk, nama gudeg diduga berasal. Cerita ini sulit dipastikan, tetapi kisahnya cocok dengan cara masakan ini dibuat.

Yang lebih terang ada di Serat Centhini, naskah besar Jawa yang digubah pada awal abad ke-19. Raden Mas Cebolang di dalamnya disuguhi gudeg, dan naskah itu mencatat gudeg manggar dari bunga kelapa muda, disantap bersama ketupat, ayam, dan telur. Puluhan tahun kemudian, pada masa Pakubuwono X di Solo (1893-1939), gudeg masih bertahan di tengah menu Eropa. Sang raja disebut gemar gudeg pakis yang dibungkus daun pisang.

Sabar, dan jangan buang pemberian Allah

Dua pelajaran kerap dibaca dari gudeg. Pertama, kesabaran saat mengolah. Kedua, ajaran untuk tidak menyia-nyiakan bahan pemberian Allah. Gori, sebutan nangka muda, tumbuh di sekitar rumah dan tak perlu didatangkan dari jauh. Dengan api kecil dan waktu panjang, buah mentah itu naik ke meja siapa saja.

Jogja dan Solo tidak sama

Gudeg Jogja berwarna cokelat tua kemerahan karena lama dimasak dengan daun jati dan gula jawa. Manisnya dominan dan kuahnya cenderung habis. Pendampingnya telur pindang, opor ayam, tempe atau tahu bacem, dan krecek. Ada gudeg kering dengan areh kental, ada gudeg basah dengan areh lebih encer.

Gudeg Solo lebih pucat, gurih, dan kurang manis. Santannya lebih kental dan disiramkan sampai agak nyemek, ditemani ceker, daun singkong muda, kacang tolo, dan krecek. Di beberapa tempat, ia disajikan dengan bubur. Di sekitar Bantul, gudeg juga dibuat dari manggar atau rebung.

Cara menyajikan dan menyimpan

Gudeg paling enak dimakan dengan nasi panas dan areh yang masih hangat. Tambahkan ayam opor atau tahu tempe bacem bila ingin lebih lengkap. Dalam jumlah besar, gudeg Jogja lazim dikemas dalam kendil atau besek.

Simpan gudeg, areh, dan krecek dalam wadah terpisah yang tertutup di kulkas dan habiskan dalam 3 sampai 4 hari. Hangatkan dengan cara dikukus sampai benar-benar panas agar gudeg tidak gosong dan areh tidak pecah.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kenapa warna gudeg saya pucat?

Biasanya karena tidak memakai daun jati, gula jawa kurang gelap, atau waktu masak kurang lama. Warna gudeg Jogja terbentuk pelan selama berjam-jam di atas api kecil.

Apa itu areh?

Areh adalah santan kental yang dimasak sampai menyusut dan mulai berminyak, lalu disiramkan ke atas gudeg dan nasi. Rasanya gurih dan menyeimbangkan manis gudeg.

Apa beda gudeg kering dan gudeg basah?

Gudeg kering dimasak sampai cairannya habis dan disajikan dengan areh kental. Gudeg basah masih menyisakan kuah dan arehnya lebih encer.

Disusun redaksi JournalArta dengan bantuan AI. Takaran bisa disesuaikan dengan selera.

(FI)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuKuis Sejarah Hari Pahlawan: 10 Soal Pertempuran Surabaya 1945, Berapa Skormu? →
TRENDING Resep Soto Betawi Santan Susu: Kuah Gurih yang Berawal dari Santan yang Habis