Senin, 9 November 2026 WIB
DAERAH

Anak Tidak Sekolah Sumbawa Capai 6.952, Ekonomi Jadi Kendala

Anak Tidak Sekolah Sumbawa Capai 6.952, Ekonomi Jadi Kendala
Anak Tidak Sekolah Sumbawa Capai 6.952, Ekonomi Jadi Kendala

SUMBAWA — Anak tidak sekolah di Sumbawa mencapai 6.952 orang, dengan persoalan ekonomi keluarga menjadi salah satu penyebab utama mereka tidak melanjutkan pendidikan. Data pemerintah Kabupaten Sumbawa itu mencakup anak-anak yang tersebar di 24 kecamatan di Nusa Tenggara Barat.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Sumbawa, Dedy Heriwibowo, menyebut Kecamatan Sumbawa mencatat jumlah tertinggi, yakni 1.113 anak. Data tersebut terdiri atas 3.683 anak laki-laki dan 3.269 anak perempuan.

Anak tidak sekolah banyak berhenti setelah SMP

Persoalan paling menonjol muncul saat anak beralih dari sekolah menengah pertama ke sekolah menengah atas. Sekitar 40 persen dari total anak tidak sekolah merupakan mereka yang tidak meneruskan pendidikan setelah menamatkan SMP.

“Jadi, mereka berhenti di jenjang SMP. Itu tantangannya,” kata Dedy di Sumbawa, Senin (9/11/2026).

Angka itu menunjukkan bahwa kelulusan SMP belum selalu diikuti kesempatan untuk melanjutkan ke SMA. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, anak yang sudah lulus SMP kerap dianggap cukup umur untuk bekerja dan ikut memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Biaya melanjutkan sekolah juga menjadi beban. Dedy menjelaskan sebagian orang tua menilai kebutuhan pendidikan di jenjang SMA terlalu mahal, sehingga kemampuan ekonomi keluarga ikut menentukan apakah anak dapat terus bersekolah.

“Ada dua faktor. Yang pertama, dianggap anaknya sudah bisa bekerja dan membantu keluarga. Yang kedua, biaya untuk melanjutkan sekolah bisa juga dianggap terlalu mahal bagi mereka,” ujar Dedy.

Ekonomi keluarga menjadi kendala utama

Dampaknya terasa langsung pada pilihan yang tersedia bagi anak dan keluarganya. Ketika penghasilan rumah tangga terbatas, melanjutkan sekolah dapat berhadapan dengan kebutuhan untuk mencari nafkah; akibatnya, sebagian anak berhenti belajar setelah SMP, menurut penjelasan Dedy.

Di luar faktor ekonomi, kondisi pribadi anak dan kurangnya perhatian orang tua juga mempengaruhi keputusan untuk tidak melanjutkan pendidikan. Kelompok anak tidak sekolah di Sumbawa juga mencakup mereka yang tidak meneruskan pendidikan pada jenjang SMP serta anak yang tidak menamatkan sekolah dasar.

Dedy menegaskan pernikahan dini bukan penyebab utama angka anak tidak sekolah di kabupaten itu. Menurut dia, kondisi ekonomi keluarga lebih banyak berperan, sedangkan jumlah kasus yang berkaitan dengan pernikahan usia anak tidak terlalu besar.

“Kalau di Sumbawa, faktor terbesarnya lebih kepada persoalan ekonomi. Untuk pernikahan dini, angkanya tidak terlalu besar,” katanya.

Koordinasi lintas sektor diperkuat

Pemerintah Kabupaten Sumbawa berupaya menekan jumlah anak tidak sekolah dengan memperkuat koordinasi lintas sektor. Upaya itu melibatkan organisasi perangkat daerah, pemerintah provinsi, serta mitra pembangunan.

Besarnya jumlah anak yang tidak melanjutkan pendidikan membuat persoalan akses sekolah berkaitan erat dengan keadaan keluarga, terutama saat anak memasuki jenjang SMA. Data pemerintah daerah mencatat 1.113 anak tidak sekolah berada di Kecamatan Sumbawa, jumlah tertinggi di antara 24 kecamatan.

(ZA)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuKuis Sejarah Hari Pahlawan: 10 Soal Pertempuran Surabaya 1945, Berapa Skormu? →