Kamis, 30 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Program Apple Upgrade: Mengapa Banyak Pengguna Enggan Menyewa iPhone?

Program Apple Upgrade
Program Apple Upgrade

JAKARTA — Apple resmi meluncurkan program penyewaan perangkat bernama Apple Upgrade. Langkah ini menawarkan cara bagi konsumen di Amerika Serikat untuk mendapatkan perangkat terbaru, seperti iPhone 17 Pro, Apple Watch, hingga MacBook Pro, tanpa harus membayar penuh di muka.

Pokok Peristiwa

Melalui skema yang dijalankan bersama Klarna ini, cicilan bulanan untuk iPhone 17 Pro Max dimulai dari angka 34,99 dolar AS, sementara MacBook Pro tersedia mulai dari 38,99 dolar AS.

Meskipun terlihat menjanjikan dari sisi finansial, sentimen publik terhadap program ini justru cenderung negatif. Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh pengamat teknologi Lance Ulanoff di platform X dan Threads, mayoritas responden menyatakan keengganan mereka untuk menyewa iPhone.

Di Threads, 80 persen dari 199 responden menolak, sementara di X, 78 persen dari 105 responden memberikan jawaban serupa.

Masalah kepemilikan menjadi faktor utama yang diperdebatkan. Dalam program Apple Upgrade, pengguna tidak benar-benar memiliki perangkat tersebut.

Skema ini mirip dengan penyewaan mobil: pengguna membayar biaya tetap selama 12, 24, atau 36 bulan, namun di akhir masa sewa, mereka tidak memiliki aset apa pun kecuali jika memutuskan untuk membeli sisa nilai perangkat tersebut.

Bagi sebagian orang, konsep ini terasa memberatkan karena mereka tetap terikat pada pembayaran bulanan yang seolah tidak berujung.

Konteks

Seorang pengguna Threads, Mrmarchall, dengan tegas mengungkapkan bahwa jika seseorang tidak mampu membeli perangkat secara tunai, maka ia sebenarnya tidak mampu untuk memilikinya.

Pandangan ini menyoroti risiko bagi mereka yang terjebak dalam siklus utang atau sewa, terutama jika di tengah masa kontrak mereka mengalami kesulitan keuangan.

Jika pengguna memutuskan untuk keluar dari program lebih awal, mereka tetap diwajibkan melunasi sisa kewajiban pembayaran yang belum jatuh tempo.

Di sisi lain, pendukung program ini berargumen bahwa tidak semua orang memiliki dana besar untuk membeli perangkat seharga seribu dolar secara tunai. Cicilan yang terjangkau dinilai sebagai solusi praktis untuk menjaga akses terhadap teknologi terkini tanpa harus menanggung beban biaya di awal.

Dampak dan Langkah Berikutnya

Bagi mereka, kepemilikan bukanlah prioritas utama dibandingkan dengan kenyamanan memiliki ponsel terbaru setiap dua tahun dengan pembaruan perangkat lunak dan keamanan yang terjamin.

Dampak jangka panjang dari tren penyewaan elektronik ini pun mulai memicu perdebatan di kalangan pemerhati industri. Jurnalis teknologi Matthew Keys menyebut pergeseran ini sebagai fenomena subscription culture atau budaya berlangganan yang kini merambah ke perangkat keras.

Kekhawatiran muncul bahwa konsumen perlahan kehilangan hak kepemilikan atas barang-barang yang mereka gunakan sehari-hari karena semuanya kini beralih ke model langganan.

Meski terdapat pro dan kontra, program ini memberikan perspektif baru bagi konsumen yang ingin selalu menggunakan teknologi terbaru tanpa memikirkan depresiasi nilai jual perangkat. Setelah ponsel keluar dari kotaknya, nilainya memang langsung menurun drastis.

Dengan memilih program sewa, pengguna mungkin bisa melepaskan beban pikiran mengenai penurunan harga jual kembali dan fokus pada pembaruan perangkat setiap dua tahun sekali.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda