Jumat, 10 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Anggota Koperasi Lindong Raya Di Beltim Bongkar Ketidakberesan Oknum Pengurusnya 

Anggota Koperasi Lindong Raya Di Beltim Bongkar Ketidakberesan Oknum
Foto: Anggota Koperasi Lindong Raya Di Belitung Timur Bongkar Bobrok Oknum Pengurus Koperasi   Belitung Timur, Journalarta com - Koperasi merupakan soko guru…

Menurut keterangan yang berhasil dihimpun oleh warga setempat, koperasi Lindong Raya dibentuk oleh warga bernama Jafari, saat itu warga ini belum menjabat sebagai kades Limbongan, dan para warga sempat dikumpulkan dirumah Jafari untuk pembentukan koperasi kelompok perkebunan sawit.

Hasil dari pertemuan tersebut, Jafari menjadi Ketuanya, sedangkan sekretarisnya adalah anak perempuannya. Namun ketka Jafari naik menjabat sebagai Kades, Saat ini ketuanya ditunjuklah Redi.

Warga bernama Redi ini disinyalir  masih keluarga dekat dengan Jafari Kades Limbongan, dan proses Redi menjadi Ketua Koperasi tidak melalui ketentuan peraturan perundang-undangan koperasi. Bahkan saat ini banyak anggota koperasi yang tidak mengetahui susunan struktur kepengurusan koperasi Lindong Raya.

Meskipun para anggota koperasi ini sebenarnya tidak berkeberatan walaupun Redi yang diketahui warga adalah masih keluarga dekat Jafari menjabat sebagai Ketua Koperasi, namun ketidaktransparanan inilah yang menjadi persoalannya, yakni banyak anggotanya memilih hengkang jadi anggota Koperasi.

Selain itu, tidak pernah ada rapat anggota dalam mengambil keputusan bersama, banyak anggota tidak memiliki kartu tanda anggota (KTA),bahkan anggota tidak memegang  juga salinan fotocopy SKT atau sertifikat lahan atas nama anggotanya,dan ironisnya warga yang telah menjadi anggota tidak pernah mengetahui dan melihat isi perjanjian kemitraan antara perusahaan mitra usaha dengan koperasi, ataupun perjanjian antara koperasi dengan anggotanya.

“Pada tahun 2015 luas lahan milik anggota yang akan dikelola ada 400 hektar, kini menjadi susut  330 hektar, eh dan taunya kemudian bertambah lagi menjadi 360 hektar lebih, pokoknya anggota merasa tak pernah tahu secara pasti berapa luasan yang dikelola secara bersama oleh koperasi,”ungkap warga desa Limbongan agar namanya ditulis inisial J.

Diungkapkannya, bahwa pengurus koperasi pernah menjanjikan jika pada masa 2-3 tahun telah menghasilkan panen, maka hasil penjualan panen, akan dibagikan kepada para anggotanya, tanpa pemotongan hutang biaya pengelolaan kebun.

“Namun nyatanya saat ini walaupun kebun sawit telah dipanen berkali-kali dengan hasil ratusan ton, nyatanya warga baru sekali menerima dan mencicipi hasil panen tersebut, itupun dalam jumlah yang kecil, sekitar 1 juta rupiah saja,” ungkapnya.

Halaman:123Semua Halaman

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda