Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
OPINI

Pak Ogah Dan Pejabat Pemerintah

Pak Ogah Dan Pejabat Pemerintah
Foto: Oleh : AHMADI SOFYAN   Pangkalpinang, Journalarta.com - PAK OGAH dalam film “Si Unyil” berkepala botak yang memiliki karakter suka minta-minta alias…

Oleh : AHMADI SOFYAN

 

Pangkalpinang, Journalarta.com – PAK OGAH dalam film “Si Unyil” berkepala botak yang memiliki karakter suka minta-minta alias memalak. Pejabat berkarakter Pak Ogah adalah pejabat yang menjadikan jabatan yang disandangnya sebagai lahan mencari uang melalui fee atau komisi bahkan jabatan dijual beli. Ah…, disini, nggak ada itu!!!
===========

FILM “Si Unyil” adalah salah satu film yang sangat saya gemari kala masih kanak-kanak. Setiap Minggu pagi, melalui layar hitam putih, di rumah tetangga kita ramai-ramai menonton film produksi PPFN yang diciptakan Drs. Suyadi ini. Film dengan menggunakan boneka sehingga digemari anak-anak se-antero negeri ini ditayangkan TVRI sejak tanggal 5 April 1981 hingga 21 November 1993. Selain Si Unyil sendiri, ada beberapa tokoh dalam peran dalam film tersebut, seperti Pak Raden, Pak Ogah, Mbok Bariah, Ucrit, Usro, Pak Lurah, Pak Cuplis dan lain-lain.
Dari semua tokoh ini, ada satu tokoh yang sangat berkarakter, yaitu Pak Ogah. Sosok Pak Ogah dikenal berkepala botak, tempat nongkrongnya di Pos Ronda, memalak orang-orang yang lewat dan terkenal dengan kalimat “cepek dulu dong…”.

Kalimat “Cepek” yang diserap dari dialek Hokkian, yang bermakna satu keping uang seratus rupiah. Karena populernya perilaku Pak Ogah yang hobi minta fee alias malak, maka di kota-kota besar, orang-orang yang mengatur jalanan (bukan Polantas) dengan harapan diberikan uang receh dari pemakai jalan, disebut “Pak Ogah”.

Oleh karenanya, kala jemari menari diatas keyboard, tiba-tiba teringat dengan film “Si Unyil” dan sang pemeran bernama Pak Ogah. Ya sudah, akhirnya tulisan pun berubah tema dan berganti judul. Sebab, saya sedang membayangkan jika sosok Pak Ogah ini ada dalam dunia pemerintahan, apalagi ia pejabat tinggi negara atau Kepala Daerah. Setiap proyek pasti harus “cepek” alias ada fee atau komisi melalui orang-orang kepercayaannya. Setiap investor dan kontraktor datang, belumlah bekerja sudah dipalak duluan. Begitupula ketika bawahan yang mau posisi atau dimutasi, haruslah pintar menjilat dan mampu membayar fee yang sudah ditetapkan.

Halaman:123Semua Halaman

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda