Setiap bulan, bawahan diposisi basah harus menyetor melalui orang kepercayaan. Setiap posisi ada upeti, begitulah kalau (karakter) Pak Ogah duduk sebagai pejabat pemerintah.
Sebagaimana dalam film “Si Unyil”, selain suka minta fee alias malak, Pak Ogah juga bersikap arogan. Anak kecil yang masih sekolah di tingkat SD (Sekolah Dasar) seperti Unyil dan Ucrit seringkali dipalak dan dibentak-bentak. Namun ketika berhadapan dengan Pak Raden, nyalinya ciut dan berusaha mengumbar senyum seakan-akan paling ramah. Ujung-ujungnya Pak Ogah minta maaf.
Penguasaan Pos Ronda oleh Pak Ogah adalah bukti betapa ia begitu berambisi dalam menguasai daerah kekuasaannya, sekaligus mempertahankan wilayah kekuasaan. Tidak boleh ada orang lain, kecuali yang pro kepada Pak Ogah. Maka muncullah sosok penjilat Pak Ogah bernama Pak Ableh.
Mari kita bayangkan, jika saja, karakter Pak Ogah ini berada di pucuk pimpinan di pemerintahan, ia tidak hanya membuat birokrasi menjadi tidak sehat, sebab pastinya melibatkan banyak orang dan semakin memperburuk citra pemerintah dimana Pak Ogah berkuasa. Pak Ableh sebagai penjilat setia Pak Ogah pastinya bersikap “Oke Boss”. Tak penting Sang Boss bernama Pak Ogah berperilaku buruk, memalak, minta fee dan bersikap arogan, yang penting posisi aman, proyek jalan, cipratan fee dapat, tak apalah diri adalah centeng sebagaimana pribumi bermental “penjilat” menghambakan diri kepada kompeni.
Dalam film “Si Unyil” Pak Ogah tidak memiliki isteri. Tak diceritakan apakah ia pernah duda ataukah memang masih bujangan. Namun jika Pak Ogah berada di pucuk pimpinan pemerintah, umumnya memiliki isteri. Nah, jika perilaku Pak Ogah adalah dalam pemerintahan, jangan-jangan anak dan isteri tercinta akan memanfaatkan posisi sang suami (Pak Ogah). Memanfaatkan kewenangan suami, fee yang dikumpulkan suami, bahkan mencari posisi untuk menjadi itu dan ini, misalnya jadi Caleg atau Komisaris atau apalah. Mumpung Pak Ogah sedang berkuasa dan menjadi Raja. Mungkin begitulah jika cerita tidak ada ini adalah dalam dunia pemerintahan kita, apalagi menjadi Raja.
Playback, Flashback dan Cashback
“DAK sape negah nek jadi raje, asal jen ngeraje” begitulah kalimat yang diucapkan salah satu tokoh Bangka Belitung yang hingga kini menjadi istilah populer masyarakat di Negeri Serumpun Sebalai. Ucapan tanpa tedeng aling, kalimat nyelekit bernilai sastra khas Bangka itu terucap dari atas mimbar oleh Zulkarnain Karim kala menjadi Khotib dan teruntuk Bupati Bangka kala itu yang ia kritisi, Bustan Khalik, yang berada persis di shaf terdepan.
