Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
OPINI

Pak Ogah Dan Pejabat Pemerintah

Pak Ogah Dan Pejabat Pemerintah
Foto: Oleh : AHMADI SOFYAN   Pangkalpinang, Journalarta.com - PAK OGAH dalam film “Si Unyil” berkepala botak yang memiliki karakter suka minta-minta alias…

Karakter kepemimpinan yang anti kritik dan selalu ingin menguasai, pastilah menciptakan konflik. Seorang pemimpin yang harusnya menyelesaikan masalah, justru menciptakan masalah dan yang lebih parah adalah diri dan perilakunya justru menjadi masalah sehingga menjadi konflik berkepanjangan. Lucunya, bawahan yang harus tampil membela Sang Boss, persis seperti Pak Ableh membela Pak Ogah, setali tiga uang alias “podo ae” atau “sami mawon”.

Kepemimpinan berkarakter Pak Ogah hanya berusaha menciptakan loyalitas tanpa integritas.

Lantas, dari film “Si Unyil” kita bisa menganalisa karakter pemimpin kita saat ini, dimana ia berposisi ataukah dalam semua karakter ada dalam diri para pemimpin? Setidaknya ada tiga aktor dalam film “Si Unyil” menjadi karakter pemimpin yang berkuasa.

(1). Pemimpin “Si Unyil”. Karakter pemimpin Si Unyil ini adalah karakter pemimpin yang penuh dengan pencitraan. Disukai karena selalu berperan baik di dalam kamera. Ia menjadi “sosok yang baik” dan cenderung disukai rakyat sebagai penonton. Gayanya yang sederhana dan pesan-pesan kebaikan menjadi sihir utama dalam mencuri hati rakyat. Slogan yang diciptakan berbalik dengan kenyataan. Namun di lain sisi, pemimpin Si Unyil ini tidak selesai dalam “bermain-main” seperti sangat kekanak-kanakan. Kadangkala yang dibuat menjadi kurang produktif bagi kepentingan masyarakat. Jabatan yang disandang tidak begitu bermanfaat kecuali hanya untuk sekedar kepentingan layar kamera dan pencitraan belaka.

(2) Pemimpin “Pak Raden”. Sebagaimana karakter tokoh dalam film Si Unyil, karakter Pak Raden adalah karakter pemimpin kawakan yang tidak pernah selesai membuat dan mencari panggung agar selalu eksis dalam kancah jabatan. Ia akan selalu ingin tampil dan tidak boleh dilupakan. Perubahan zaman dan pertambahan usia tidak membuat ia ingin “pensiun” dari hiruk pikuk perpolitikan. Semua orang baru dianggap “anak kemaren sore” yang tidak tahu menahu. Haus akan jabatan dan koar-koar kesana kemari kalau jabatan tidak mampu diraih atau diberhentikan.

(3) Pemimpin “Pak Ogah”. Seperti penjelasan panjang diatas, pemimpin yang menjadikan profesi atau jabatan yang disandangnya sebagai lahan mencari uang. Berkepala botak dan berusaha memanfaatkan posisi sebagai “penguasa pos ronda” bersama sang penjilat bernama Pak Ableh. Memalak, meminta fee, komisi dan sebagainya adalah target Pak Ogah yang paling utama.

Dari 3 jenis pemimpin ini, menurut Cak Lontong, kita bisa menyimpulkan bahwa pemimpin “Si Unyil” berkarakter “Playback”, pemimpin “Pak Raden” berkarakter “Flashback” dan pemimpin “Pak Ogah” berkarakter “Cashback”. Terus Pak Ableh gimana? Kalau Pak Ableh nggak usah aja dah, namanya juga anak kemaren sore belajar jadi penjilat, nggak punya pegangan kemampuan diri apalagi integritas. Jadi harus menjilat agar tetap melekat dengan Pak Ogah.

Semoga di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Kabupaten maupun Kota, tidak ada pemimpin yang suka memalak, minta fee, jual beli jabatan dan bayar komisi seperti Pak Ogah.

Salam Pak Ogah!(*)

Tentang Penulis : Ahmadi Sofyan, akrab disapa “Atok Kulop”. Dikenal sebagai Penulis dan Pemerhati Sosial dan Budaya di Bangka Belitung. Telah menulis lebih 80 judul buku dan 1.000 lebih opininya ditersebar di media cetak maupun online. Saat ini kesehariannya banyak berada di kebun tapi terus mengikuti perkembangan dunia dari pondok kebun tepi sungai.

Halaman:123Semua Halaman

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda