Dalam permainan itu Sangkuni bertindak sebagai pelempar dadu Korawa. Dengan menggunakan ilmu sihirnya, ia berhasil mengalahkan para Pandawa. Sedikit demi sedikit, harta benda para Pandawa jatuh ke tangan Duryodana, termasuk istana Indraprastha dan istri mereka, Dropadi.
Itulah sedikit deskripsi apa dan siapa itu Sengkuni, yang bisa bermuka dua, yang lidahnya bercabang, mau menjadi itu semua demi untuk keuntungan pribadi sendiri atau mungkin kelompok nya. Dengan cara-cara yang licik, dengan hasutan, dengan penuh tipu muslihat dia kerjakan, tidak perduli itu kawan apalagi lawan, sikat habis.
Sengkuni memiliki prinsip “biarlah orang lain menderita yang penting dalam hidupnya mendapatkan apa yang diinginkannya”. Dengan prinsip-prinsip itu bahagia menjalani hidup dengan indah, munafik, halus, penuh tipu muslihat.
Jika ditarik ke konteks saat ini, Sengkuni selalu muncul dalam kontetasi politik Indonesia sebagai analogi perebutan kekuasaan. Para politikus partai rela melakukan atau mengahalkan berbagai cara seperti melakukan black campaign hingga menebar hoaks untuk mempolarisasi dan menggiring opini khalayak demi mendapatkan kekuasaan. Sudah saatnya kita perang baratayudha untuk melawan politik dua kaki, politik adu domba berupa penyebaran berita bohong yang berpotensi memecah belah bangsa.
Di era digital ini hendaknya masyarakat harus cerdas dalam menentukan pemimpin baik di tatanan legislatif dan eksekutif, era digital saat ini sangat luas bagi kita untuk mengamati rekam jejaknya siapapun, terutama di tatanan generasi milenial dan gen Z yang telah melek dunia informasi dan tehnologi lihat dengan cermat rekam jejak digital untuk menentukan pilihan.
Mari kita pilih pemimpin yang tegas, berilmu, berintegtitas, jenius muda dan berbakat serta yang paling utama jujur, tidak korupsi serta tidak berkhianat dalam berpolitik juga berkawan.(*)
Penulis: Dr. Suriyanto PD, SH, MH, M.Kn – Ketua Pro GP
