Transisi energi merupakan proses panjang yang harus dilakukan oleh negara-negara di dunia untuk menekan emisi karbon yang dapat menyebabkan perubahan iklim. Kesepakatan dalam transisi energi bertujuan untuk menuju ke titik yang sama yaitu pemanfaatan energi bersih yang terus meningkat.
Bahkan Presiden Joko Widodo sebelumnya telah menyampaikan bahwa menurutnya Indonesia akan mencapai Net Zero Emission (NZE) tahun 2060 atau lebih cepat.
Mengutip dari lama resmi Kementerian ESDM atau esdm.go.id, disebutkan jika Indonesia memiliki target Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada bauran energi nasional pada tahun 2025.
Kebijakan ini yang dipadukan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 29% pada tahun 2030, merupakan upaya yang jelas menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Direktur Pembinaan Program Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu mewakili Direktur Jenderal, Rida Mulyana pada The 9th INDONESIA EBTKE Virtual Conference and Exhibiton 2020 (EBTKE Conex 2020) yang mengusung tema “It’s Time to Invest in Renewable Energy for Energy Transitions and Economic Recovery” yang dilaksanakan secara virtual.
Energi terbarukan adalah sumber energi yang cepat dipulihkan kembali secara alami, dan prosesnya berkelanjutan. Energi terbarukan dihasilkan dari sumberdaya energi yang secara alami tidak akan habis bahkan berkelanjutan jika dikelola dengan baik. Energi terbarukan kerap disebut juga sebagai energi berkelanjutan (sustainable energy).
*Tentang Kopetindo*
Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) mempunyai misi sebagai koperasi energi terbarukan pertama di Indonesia yang diakui secara nasional dan bermanfaat bagi komunitas lokal dan masyarakat Indonesia.
Kopetindo merupakan badan usaha berbentuk koperasi pertama yang bergerak khusus di bidang energi terbarukan. Kopetindo didirikan dengan tujuan membangun Indonesia dengan memanfaatkan energi terbarukan dari lokal dan menerapkan teknologi tepat guna.
Kopetindo akan memanfaatkan potensi energi lokal yang ada di sejumlah daerah seperti angin, matahari, biomass, biogas, sampah, skala mikro maupun mini, panas bumi hingga gelombang laut.
Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) sudah memulai peyaluran investasi untuk proyek biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berlokasi Bangka.
Ketua Umum Kopetindo, Widi Pancono menjelaskan saat ini pihaknya sedang dalam tahap berinvestasi untuk beberapa proyek energi terbarukan yang sumber pendanaan dari anggota.
“Salah satu investasi yang sedang dijalankan saat ini adalah biomassa palet kayu dari kayu karet tua masyarakat, di luar kawasan hutan untuk menggantikan batubara di pembangkit PLTU Air Anyir, Pulau Bangka,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Sabtu (28/10/2023).
Widi menyatakan, peluang proyek co-firing biomassa saat ini semakin tumbuh dan semakin banyak permintaan dari PLTU PLN lainnya dan PLTU swasta.
Proyek Kopetindo di Bangka ini diakui telah dijadikan percontohan nasional. Selain proyek biomasa woodchip, Kopetindo juga masuk dalam kerja sama dengan pihak swasta dan daerah untuk mengembangkan proyek tenaga surya atap, arang batok, lampu LED, sampah menjadi pengganti solar, dan lainnya.(KBO Babel)
