Jumat, 10 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Dr. Marshal : Persoalan Beriga Merupakan Golden Moment Untuk Babel Dalam Mendapatkan Royalti 10%

Dr. Marshal
Foto: PANGKALPINANG, JOURNALARTA.Com - Penolakan masyarakat terhadap pelaksanaan pertambangan laut di kawasan Batu Beriga dinilai dapat menjadi 'Golden Moment' dalam…

PANGKALPINANG, JOURNALARTA.Com – Penolakan masyarakat terhadap pelaksanaan pertambangan laut di kawasan Batu Beriga dinilai dapat menjadi ‘Golden Moment’ dalam mendorong royalti PT Timah Tbk ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi lebih layak.

Dalam hal ini, salah satu ahli ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dr. Marshal Imar Pratama mengatakan penolakan terhadap aktivitas pertambangan laut seharusnya juga merambat ke desa-desa lain, sehingga dapat menjadi salah satu dasar mengkaji ulang kehadiran pertambangan di Bangka Belitung mulai dari tata kelolanya sampai pembagian hasilnya untuk daerah.

“Sudah cukup selama ratusan tahun Babel dibodohi. Saya berharap Babel memiliki nilai tawar yang tinggi, yang bisa berdampak pada didapatkannya royalti 10% saat posisi PT Timah sedang dilematis. Terkadang manajemen konflik itu harus diciptakan dalam menggapai tujuan, apalagi ini tujuannya baik untuk Babel,” kata Marshal, kepada awak media, dikutip, Minggu (3/11/2024).

Menurut Marshal, PT Timah Tbk selalu berdalih pada kontribusinya yang besar terhadap Bangka Belitung, namun kenyataannya masih jauh dari yang diharapkan dan tidak sesuai dengan kerusakan lingkungan akibat pasca tambang tersebut.

“Begitu sulitnya PT Timah memberikan royalti 10% dengan alasan klasik, sampai mereka rela bocor Rp 300 triliun ketimbang memberikan kepada Babel,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan Marshal, dengan kerusakan yang telah ditimbulkan pasca tambang selama ini, Bangka Belitung haruslah memiliki nilai tawar yang lebih tinggi sehingga nantinya dari royalti itu Bangka Belitung dapat memperbaiki diri serta mensejahterakan masyarakat.

“Kita harus punya nilai tawar yang kuat, untuk mendapatkan hak secara permanen dari Timah di Babel, minimal 10 persen lah,” jelasnya.

Marshal juga menjelaskan bahwa royalti bisa saja dalam wujud obligasi atau surat berharga lainnya yang sudah menjadi aset dan saham bagi Bangka Belitung dalam bentuk investasi jangka panjang.

Ia menilai apa yang menjadi tuntutan ini sangatlah setimpal karena menurutnya selama ratusan tahun adanya aktifitas pertambangan timah, tidak ada yang didapatkan masyarakat Bangka Belitung. Artinya tidak ada kebermanfaatan untuk Bangka Belitung dari penambangan timah itu sendiri, kecuali hanya untuk menopang makan sehari-hari masyarakat saja.

“Kenyataanya Babel juga tidak bisa maju oleh masyarakatnya sendiri yang konservatif dalam berpikir serta bertindak, karena ada saja masyarakat yang berdalih pada lapangan pekerjaan bila pertambangan itu ditutup,” katanya.

“Padahal Babel bisa maju dengan sektor-sektor lainnya, dan isu seperti ini selalu dimunculkan pada saat terjadinya konflik antara pelaku pertambangan dengan masyarakat yang menolak pertambangan,” tambahnya.

Sementara itu terkait dalam menangani persoalan tambang ilegal, menurut Doktor Ilmu Ekonomi ini haruslah dilakukan pendekatan yang komprehensif terhadap masyarakat, khususnya yang terdampak secara langsung.

Kendati begitu, Marshal juga tak menampik bahwa hingga saat ini masih begitu banyak masyarakat yang mejadikan sektor tambang sebagai mata pencarian utama dan penutupan tambang tanpa alternatif dapat berdampak buruk terhadap ekonomi lokal.

Berikut contoh solusi yang ditawarkan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat :

  1. Pelatihan dan Pendidikan Keterampilan Alternatif kepada masyarakat sesuai latar belakang pendidikan masyarakat, seperti pertanian, peternakan, atau usaha kecil dan Program ini bisa disesuaikan dengan potensi daerah setempat.

Halaman:12Semua Halaman

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda