“Menteri juga tidak boleh seenaknya mengangkat staf khusus tanpa berkoordinasi ke pihak Istana seperti yang dikatakan AM Putranto, Kepala Staf Kepresidenan,” tegas Agung.
Agung menambahkan, beberapa waktu lalu keputusan Menkomdigi, Meutya Hafid melantik Rudi Sutanto dan Raline Shah sebagai staf khusus menuai polemik. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Rudi Sutanto tak lain ialah Rudi Valinka merupakan pegiat sosial di platform Twitter, yang kini berganti X, dengan akun @kurawa.
“Pelantikan Rudi Sutanto pun ramai dibincangkan warganet mengingat cuitan-cuitan penulis buku “A Man Called #Ahok” itu menuai pro dan kontra jika dilihat dari jejak digitalnya,” ujarnya.
“Begitu pula dengan pelantikan Raline Shah sebagai Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Bidang Kemitraan Global dan Edukasi Digital,” tambahnya.
KOMTIH mengkritik penempatan kedua orang tersebut dirasa kurang tepat sebagai staf khusus Menkomdigi. Rudi Sutanto diduga sebagai alias Rudi Valinka yang terkenal sebagai Buzzer, dan juga Raline Shah yang terkenal sebagai artis.
“Padahal, masih banyak Sumber Daya Manusia di Negeri ini yang punya potensi tepat untuk menempati posisi Staf Khusus Menteri. Jangan juga ada Menteri yang seenaknya mengangkat Staf Khusus tanpa ada koordinasi dengan Istana, apalagi jika tidak selaras dengan Misi Asta Cita dan Visi Indonesia Emas 2045. Itu namanya Menteri dan Staf Khusus ‘keblinger‘,” tegas Agung.(*)
Simak dan Ikuti Berita dan Artikel JOURNALARTA Lainnya di GOOGLE NEWS