Australia mengklaim bahwa penggunaan baterai energi terbarukan berhasil menekan harga listrik di waktu malam, saat permintaan energi tradisional berbasis batu bara dan gas meningkat. Menteri Energi Chris Bowen menegaskan bahwa kebijakan transisi energi negara kanguru tersebut memberikan nilai ekonomi signifikan, termasuk dalam kepemimpinan Australia di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP).
Dalam konferensi pers hari Senin, Bowen membantah tudingan oposisi bahwa biaya penyelenggaraan COP mencapai AUD 200 juta (sekitar Rp 3 triliun) sebagai pemborosan. “Ini berbohong. Kedua, acara seperti ini memang butuh biaya, sama seperti saat John Howard memimpin APEC atau Tony Abbott memimpin G20. Ini bagus untuk negara dan kami mendukungnya karena kami partai yang patriotik,” ujar Bowen seperti dilansir The Guardian.
Baterai Serap Energi Malam, Harga Listrik Turun
Menurut data pemerintah Australia, sistem baterai energi terbarukan kini mampu menyerap energi berlebih dari panel surya di siang hari, kemudian melepaskannya saat malam ketika permintaan listrik melonjak. Strategi ini disebut “flatten the peak” — meratakan puncak permintaan energi yang biasanya dipenuhi oleh pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas.
“Tekanan terbesar pada harga listrik terjadi di malam hari ketika batu bara dan gas lebih banyak digunakan. Ketika kami lebih banyak memanfaatkan baterai, yang menyimpan energi terbarukan dari siang hari untuk digunakan malam hari, ini benar-benar memberikan tekanan signifikan untuk menurunkan harga,” jelas Bowen. Kebijakan ini sejalan dengan posisi Australia sebagai negara dengan kapasitas baterai terbesar ketiga di dunia.
Reformasi Pasar Energi dan Kepemimpinan Iklim Global
Pemerintah Australia juga tengah mereformasi mekanisme penetapan harga listrik default untuk memastikan hanya biaya yang benar-benar diperlukan yang dibebankan kepada konsumen. Langkah ini dilakukan bersamaan dengan peningkatan kapasitas energi terbarukan dalam jaringan listrik nasional.
Bowen, yang juga menjabat sebagai Presiden Negosiasi COP, menegaskan bahwa kepemimpinan Australia di forum iklim global adalah “nilai uang yang sangat baik” untuk negara. “Ini adalah kepresidenan 12 bulan. Sebagian besar anggaran belum dihabiskan. Ini memberi Australia kesempatan memainkan peran besar dalam negosiasi iklim,” tambahnya.
Sementara itu, dunia politik Australia juga berduka atas meninggalnya Neale Daniher, mantan pemain dan pelatih AFL legendaris, pada Senin kemarin setelah 13 tahun berjuang melawan penyakit motor neurone. Berbagai gedung pemerintahan di negara bagian Victoria akan diterangi sebagai bentuk penghormatan. Kepemimpinan politik seperti Daniher sering menjadi inspirasi bagi generasi pemimpin baru Australia.
Di sektor energi, pemerintah mengakui adanya dampak terhadap produksi gas, meski saat ini pengaruh lebih terasa pada sektor minyak. “Kami tidak lengah terhadap situasi ini,” tutup Bowen, menegaskan komitmen Australia terhadap transisi energi yang berkelanjutan dan terjangkau.
Sumber: The Guardian World (baca selengkapnya)