Amerika Serikat meluncurkan serangan “pertahanan diri” ke wilayah selatan Iran pada Senin (25/5/2026) waktu setempat, memicu ketegangan baru di Timur Tengah di tengah upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan damai. Ledakan dilaporkan terjadi di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis Iran yang berbatasan dengan Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran menyatakan situasi “terkendali” dan tidak ada alasan untuk khawatir pasca serangan tersebut. Namun, Pentagon belum memberikan keterangan resmi terkait skala dan target serangan yang dilancarkan pasukan AS tersebut.
Iran Bantah Kesepakatan dengan Washington Sudah Dekat
Meskipun ada kabar progress dalam perundingan damai, pemerintah Iran membantah adanya kesepakatan dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat. Ebrahim Rezaei, juru bicara komisi keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Parlemen Iran, justru memperingatkan bahwa waktu bekerja melawan kepentingan Washington.
“Selama perang militer, taktik kami adalah mata dibalas mata; dalam perang diplomatik, tindakan dibalas tindakan,” tulis Rezaei di platform media sosial X. Ia menyebut Presiden AS sebagai “presiden gagal” yang menggunakan gertakan kosong.
Pejabat Iran tersebut menekankan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada ancaman atau kekerasan. “Jika mereka menginginkan kesepakatan, mereka harus bernegosiasi; jika mereka menginginkan bensin $6 per galon, biarlah mereka bersikukuh sampai rumput tumbuh di kaki mereka,” tandas Rezaei dalam pernyataan yang menunjukkan sikap keras Teheran.
Ketegangan Geopolitik Ancam Pasokan Energi Global
Serangan AS ke Bandar Abbas menimbulkan kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global mengingat lokasi strategis kota tersebut yang berdekatan dengan Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital ini mengalirkan sekitar sepertiga minyak dunia yang diangkut melalui laut.
Analis geopolitik memperingatkan bahwa eskalasi konflik Iran-AS dapat mendorong harga energi global melonjak drastis, berdampak pada ekonomi dunia yang masih pulih dari berbagai krisis. Kondisi serupa juga diamati di berbagai kawasan seperti Tokyo yang baru mengalami insiden keamanan, menandakan ketidakstabilan regional global.
Sementara itu, sejumlah negara mulai mengamankan cadangan energi alternatif. Australia yang kini menjadi pemain besar dalam industri baterai global diprediksi akan diuntungkan dari upaya diversifikasi energi tersebut.
Perundingan Damai di Ambang Kegagalan
Serangan militer AS terjadi di tengah upaya diplomatik intensif untuk meredakan ketegangan Iran-AS yang telah berlangsung berbulan-bulan. Beberapa putaran negosiasi sebelumnya menunjukkan progress, namun insiden terbaru dikhawatirkan dapat menggagalkan seluruh proses perdamaian.
Komunitas internasional menyerukan kedua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Uni Eropa dan beberapa negara Timur Tengah menawarkan mediasi untuk mencegah konflik terbuka yang dapat menghancurkan stabilitas regional.
Washington mengklaim serangan tersebut merupakan tindakan “pertahanan diri” menyusul serangkaian provokasi, meskipun detail insiden pemicu belum diungkap secara publik. Teheran menolak keras klaim tersebut dan berjanji akan merespons sesuai dengan “doktrin mata dibalas mata” yang telah diperingatkan Rezaei.
Situasi di Bandar Abbas dan sekitarnya kini menjadi sorotan dunia, dengan satelit pengawas memantau setiap pergerakan militer kedua negara. Pasar keuangan global juga bereaksi nervus, dengan harga minyak mentah mengalami fluktuasi signifikan sejak berita serangan AS tersiar.
Sumber: The Guardian World (baca selengkapnya)
Sumber: The Guardian World (baca selengkapnya)