Australia kini menempati posisi ketiga dunia dalam penggunaan baterai skala utilitas (utility-scale batteries), hanya di bawah China dan Amerika Serikat. Pencapaian ini sejalan dengan proyeksi penurunan tagihan listrik rumah tangga hingga 10 persen pada Juli mendatang, berkat ekspansi masif energi terbarukan Australia dan teknologi penyimpanan energi canggih.
Menteri Perubahan Iklim dan Energi Australia, Chris Bowen, yang juga menjabat sebagai Presiden Negosiasi KTT Iklim COP, membantah kritik soal pemborosan anggaran untuk peran kepresidenan tersebut. Ia menegaskan bahwa investasi ini memberikan nilai ekonomi tinggi bagi negara.
Bowen Bela Anggaran KTT Iklim
Menanggapi tuduhan anggaran 200 juta dolar untuk kepresidenan COP, Bowen menyebutnya sebagai informasi yang keliru dan menyesatkan. Ia menjelaskan bahwa kepresidenan selama 12 bulan ini belum menghabiskan sebagian besar anggarannya.
“Ini memberikan nilai uang yang sangat baik untuk Australia. Peran ini memberi peluang Australia untuk memainkan posisi besar dalam negosiasi iklim global,” ujar Bowen, seperti dilaporkan The Guardian.
Politisi Partai Buruh tersebut membandingkan dengan acara internasional sebelumnya yang dipimpin Australia, seperti APEC yang diketuai John Howard dan G20 di bawah Tony Abbott. Menurutnya, event-event tersebut memang membutuhkan biaya namun memberikan manfaat strategis bagi negara.
Baterai dan Energi Terbarukan Tekan Harga Listrik
Penurunan tagihan energi yang diproyeksikan mencapai 10 persen pada Juli nanti didorong oleh tiga faktor utama. Pertama, peningkatan proporsi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional. Kedua, baterai penyimpanan energi yang mampu menyerap kelebihan produksi dari tenaga surya dan angin, mengurangi ketergantungan pada batu bara dan gas terutama pada malam hari. Ketiga, reformasi penawaran pasar default (default market offer) untuk memastikan hanya biaya yang benar-benar diperlukan yang dibebankan ke konsumen.
Bowen menjelaskan fenomena yang disebut “meratakan puncak” (flatten the peak), di mana baterai menyimpan energi terbarukan dari siang hari untuk digunakan pada malam hari saat permintaan tinggi. Strategi ini secara signifikan menekan tekanan harga karena mengurangi penggunaan batu bara dan gas pada jam-jam puncak konsumsi.
“Yang kita lihat adalah baterai bekerja meratakan puncak konsumsi. Tekanan terbesar pada harga terjadi di malam hari ketika batu bara dan gas lebih banyak digunakan. Ketika kita lebih banyak memanfaatkan baterai yang menyimpan energi terbarukan dari siang hari, itu benar-benar memberikan tekanan penurunan harga yang sangat signifikan,” jelasnya.
Dampak Geopolitik terhadap Energi
Meski mengakui ada dampak pada produksi gas, pemerintah Australia menyatakan pengaruh utama saat ini lebih terasa pada sektor minyak. Namun, Bowen menegaskan pihaknya tidak berpuas diri dan terus memantau perkembangan situasi energi global yang dinamis.
Pencapaian Australia sebagai negara terbesar ketiga dunia dalam baterai skala utilitas menunjukkan komitmen serius dalam transisi energi bersih. Dengan kapasitas penyimpanan energi yang terus bertambah, negara ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan listrik sambil menurunkan emisi karbon dan biaya energi bagi masyarakat.
Langkah-langkah ini menjadi model bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang tengah mempercepat program energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Sumber: The Guardian World (baca selengkapnya)
Sumber: The Guardian World (baca selengkapnya)