Pulau Lord Howe, situs warisan dunia UNESCO di lepas pantai Australia, kini merayakan kembalinya kehidupan serangga endemiknya setelah program eradikasi tikus dan mencit invasif berhasil dilakukan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai spesies serangga unik yang hampir punah akibat hama pengerat kini kembali berkembang biak di pulau seluas 14,6 kilometer persegi ini.
Ian Hutton, seorang naturalis dan pemandu wisata alam di pulau tersebut, mengatakan bahwa pemandangan kumbang stag endemik yang terbang di antara puncak pohon purba mencari pasangan di musim panas adalah hal yang luar biasa. “Ini benar-benar sesuatu yang menakjubkan,” ujarnya tentang kumbang dengan cangkang sayap berwarna hijau metalik berkilau itu.
Dampak Tikus Invasif pada Ekosistem Pulau
Tikus dan mencit yang tiba di Lord Howe Island melalui kapal pada awal abad ke-20 telah menimbulkan kerusakan masif pada ekosistem pulau. Hewan pengerat invasif ini memangsa telur burung, merusak tanaman asli, dan yang paling mengkhawatirkan, melahap serangga endemik yang tidak memiliki mekanisme pertahanan terhadap predator mamalia.
Populasi tikus mencapai ribuan ekor, mengancam kelestarian flora dan fauna unik yang telah berevolusi secara terisolasi selama jutaan tahun. Beberapa spesies burung laut hampir punah, sementara berbagai jenis kumbang dan kecoak endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia berada di ambang kepunahan.
Program eradikasi senilai miliaran rupiah yang diluncurkan pemerintah Australia melibatkan penyebaran umpan beracun secara strategis di seluruh pulau, dikombinasikan dengan monitoring ketat menggunakan teknologi pelacakan. Upaya ini memakan waktu bertahun-tahun dan memerlukan koordinasi dengan seluruh penduduk pulau yang berjumlah sekitar 350 jiwa.
Kembalinya Serangga Endemik yang Terancam
Sejak pulau dinyatakan bebas tikus pada 2019, pemulihan ekosistem berlangsung dramatis. Kumbang stag Lord Howe (Lamprima insularis) yang sempat sangat jarang terlihat kini populasinya meningkat signifikan. Serangga dengan panjang hingga 30 milimeter ini memiliki rahang besar menyerupai tanduk rusa dan warna hijau zamrud yang memantulkan cahaya.
Selain kumbang stag, berbagai spesies kecoak endemik yang dulunya hampir punah kini kembali aktif di malam hari. Spesies-spesies ini memainkan peran penting dalam dekomposisi dan daur ulang nutrisi di hutan hujan pulau. Keanekaragaman hayati serangga yang pulih ini juga menjadi sumber makanan bagi burung-burung asli yang populasinya ikut meningkat.
Hutton, yang telah mengamati kehidupan liar di pulau selama puluhan tahun, mencatat bahwa suara serangga nokturnal yang dulu hampir hilang kini kembali menghiasi malam-malam di Lord Howe. Regenerasi vegetasi asli juga berlangsung lebih cepat karena biji-bijian tidak lagi dimakan tikus.
Keberhasilan Lord Howe Island menjadi contoh penting bagi upaya konservasi pulau-pulau lain di seluruh dunia yang menghadapi ancaman serupa dari spesies invasif. Para ahli konservasi menyebut proyek ini sebagai salah satu eradikasi mamalia invasif terbesar yang pernah berhasil dilakukan di kawasan berpenghuni.
Pulau yang terletak sekitar 600 kilometer timur laut Sydney ini kini menjadi destinasi ekowisata yang semakin populer. Wisatawan dapat menyaksikan langsung bagaimana alam pulihkan dirinya sendiri ketika ancaman invasif dihilangkan, sebuah pelajaran berharga tentang ketangguhan ekosistem dan pentingnya tindakan konservasi yang terencana.
Sumber: The Guardian (baca selengkapnya)
Sumber: The Guardian (baca selengkapnya)