Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Rupiah Tembus Rp17.900, Kalah dari 10 Mata Uang Asia

Ilustrasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan mata uang Asia lainnya
Ilustrasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan mata uang Asia lainnya. (Ilustrasi: AI)

Tekanan terhadap rupiah Indonesia kembali menguat di tengah volatilitas pasar valuta asing global. Nilai tukar rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.900 per dolar AS dalam perdagangan terkini, bahkan transaksi di beberapa bank internasional dilaporkan mencapai mendekati Rp18.000. Yang lebih mengkhawatirkan, pelemahan rupiah kali ini tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap 10 mata uang regional Asia lainnya, mengindikasikan adanya tekanan spesifik pada ekonomi Indonesia yang tidak dialami secara merata oleh negara-negara tetangga.

Fenomena ini menandai salah satu periode tekanan terberat bagi rupiah dalam beberapa bulan terakhir. Pelemahan simultan terhadap mata uang regional mencerminkan kekhawatiran investor terhadap fundamental ekonomi domestik, di tengah kondisi global yang memang tengah bergejolak. Para pelaku pasar kini mencermati apakah Bank Indonesia akan mengambil langkah intervensi lebih agresif atau membiarkan mekanisme pasar bekerja dengan risiko pelemahan lebih lanjut.

Konteks Pelemahan Regional Rupiah

Posisi rupiah yang tertinggal dari 10 mata uang Asia lainnya menunjukkan bahwa tekanan yang dialami tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal seperti penguatan dolar AS semata. Mata uang regional seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, rupee India, won Korea Selatan, dan dolar Singapura relatif lebih stabil atau bahkan menguat dalam periode yang sama, mengindikasikan adanya sentimen spesifik terhadap Indonesia.

Dalam perdagangan valuta asing regional, rupiah mencatat pelemahan yang lebih dalam dibandingkan peso Filipina, dong Vietnam, kyat Myanmar, taka Bangladesh, dan bahkan rupee Sri Lanka yang negaranya baru keluar dari krisis ekonomi. Hanya beberapa mata uang seperti yen Jepang yang juga mengalami tekanan serupa akibat kebijakan moneter dovish Bank of Japan.

Tekanan terhadap rupiah ini terjadi di tengah kondisi neraca perdagangan Indonesia yang sebenarnya masih mencatat surplus. Namun, kekhawatiran terhadap defisit transaksi berjalan, utang luar negeri korporasi yang jatuh tempo, serta aliran modal keluar dari pasar saham dan obligasi domestik menjadi faktor-faktor yang membebani sentiment investor terhadap rupiah.

Faktor Pendorong Pelemahan

Beberapa faktor fundamental mendorong pelemahan rupiah yang lebih tajam dibandingkan mata uang regional. Pertama, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve AS yang masih cenderung hawkish membuat dolar AS tetap kuat secara global. Namun, yang membedakan Indonesia adalah keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan di tengah inflasi yang terkendali, menciptakan diferensial suku bunga yang kurang menarik bagi investor asing dibandingkan negara tetangga yang menaikkan suku bunga lebih agresif.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda