Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman terbuka kepada Oman, menyatakan negaranya akan “meledakkan” sekutu lama AS di kawasan Teluk tersebut jika terus memberikan dukungan kepada Iran terkait kontrol Selat Hormuz. Ancaman eksplisit ini menandai eskalasi baru dalam krisis diplomatik dan militer AS-Iran yang telah memicu serangkaian serangan balasan dan mengancam stabilitas jalur energi global terpenting di dunia.
Pernyataan Trump ini muncul di tengah ketegangan yang memuncak setelah AS meluncurkan serangan militer ke Bandar Abbas, Iran selatan, beberapa hari lalu. Serangan tersebut, yang diklaim Washington sebagai “pertahanan diri”, memicu ancaman balasan dari Teheran dan memperburuk situasi keamanan di kawasan yang mengontrol sekitar 21 persen pasokan minyak global.
Latar Belakang Ketegangan AS-Iran dan Peran Selat Hormuz
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran sepanjang 21 mil yang memisahkan Iran dari Oman dan Uni Emirat Arab. Lebih dari sepertiga perdagangan minyak via laut global melewati selat strategis ini setiap hari. Kontrol atas jalur ini menjadi kartu tawar utama Iran dalam konfrontasi dengan blok Barat, terutama AS.
Iran telah berulang kali mengancam akan menutup Selat Hormuz jika menghadapi embargo atau serangan militer. Ancaman ini bukan sekadar retorika — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memiliki kemampuan militer asimetris yang signifikan di kawasan tersebut, termasuk speedboat bersenjata, rudal anti-kapal, dan ranjau laut.
Oman, meskipun secara historis menjadi mitra diplomatik AS, selama ini memainkan peran mediator antara Washington dan Teheran. Muscat memiliki hubungan relatif netral dengan Iran dan kerap menjadi saluran komunikasi back-channel dalam negosiasi nuklir dan perundingan rahasia. Posisi geografis Oman yang mengapit sebagian pantai selatan Selat Hormuz membuat negara ini memiliki peran strategis dalam dinamika keamanan maritim kawasan.
Ancaman Trump dan Implikasi Diplomatik
Ancaman Trump kepada Oman — yang dilaporkan oleh beberapa media internasional — menunjukkan pergeseran tajam dalam diplomasi AS di Timur Tengah. Ini bukan pertama kalinya Trump menggunakan bahasa ancaman eksplisit terhadap negara-negara sekutu atau netral. Namun, ancaman terhadap Oman mengejutkan karena negara tersebut bukan musuh AS dan justru selama ini dianggap sebagai stabilisator regional.
Pernyataan ini diduga terkait dengan tuduhan AS bahwa Oman memberikan ruang gerak bagi aktivitas militer atau logistik Iran di kawasan Selat Hormuz. Washington khawatir Muscat tidak cukup tegas dalam membatasi akses Iran atau bahkan diam-diam memfasilitasi operasi intelijen dan militer Teheran.
Iran merespons ancaman Trump dengan menyerukan solidaritas regional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut ancaman AS sebagai “intimidasi imperialis” dan menegaskan bahwa Iran akan terus bekerja sama dengan negara-negara tetangga untuk menjaga keamanan kawasan tanpa campur tangan asing.
Risiko Eskalasi Militer dan Dampak Global
Ancaman terhadap Oman menambah kompleksitas konflik AS-Iran yang sudah berada di ambang perang terbuka. Setelah serangkaian serangan balasan antara kedua negara — termasuk serangan drone Hezbollah ke Israel dan bombardir AS ke Bandar Abbas — ketegangan kini meluas ke ranah diplomatik yang melibatkan negara-negara Teluk.
Jika AS benar-benar melakukan tindakan militer terhadap Oman — meskipun kemungkinan ini rendah mengingat konsekuensi diplomatiknya — dampaknya akan melampaui kawasan Timur Tengah. Blok negara-negara Arab Teluk, termasuk Arab Saudi dan UEA, akan terpaksa mengambil sikap tegas, yang dapat memecah aliansi regional yang selama ini dibangun AS.
Di sisi ekonomi, ancaman ini sudah memicu kekhawatiran pasar energi global. Harga minyak dunia berpotensi melonjak jika terjadi penutupan Selat Hormuz atau konflik militer di kawasan tersebut. Sebelumnya, serangan AS ke Bandar Abbas memicu prediksi kenaikan harga bahan bakar hingga $6 per galon di pasar AS. Jika situasi memburuk, dampaknya akan dirasakan oleh ekonomi global, termasuk Indonesia yang bergantung pada impor minyak.
Reaksi Internasional dan Posisi Oman
Hingga saat ini, pemerintah Oman belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi ancaman Trump. Namun, diplomat Oman di forum regional diketahui sedang melakukan konsultasi intensif dengan negara-negara Teluk dan Uni Eropa untuk mengelola krisis ini secara diplomatik.
Negara-negara Eropa, khususnya Inggris dan Prancis, menyuarakan kekhawatiran atas eskalasi retorika AS. Kedua negara memiliki kepentingan ekonomi dan keamanan di kawasan Teluk dan selama ini mendukung diplomasi sebagai solusi utama dalam konflik AS-Iran.
Sementara itu, Tiongkok dan Rusia — dua aktor besar yang memiliki hubungan erat dengan Iran — menyebut ancaman AS sebagai “destabilisasi unilateral” dan menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan negara-negara kawasan. Tiongkok, sebagai importir minyak terbesar dunia, sangat bergantung pada kelancaran jalur Selat Hormuz dan telah mengirim kapal perang ke kawasan tersebut dalam misi pengawalan perdagangan.
Dampak bagi Indonesia dan Kawasan Asia Tenggara
Meskipun secara geografis jauh dari Timur Tengah, Indonesia tidak kebal terhadap dampak konflik AS-Iran. Sebagai negara importir minyak bersih, lonjakan harga energi global akan langsung memengaruhi harga BBM domestik, inflasi, dan daya beli masyarakat.
Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz mengingatkan pada pentingnya jalur pelayaran strategis lain seperti Selat Malaka dan Selat Sunda bagi Indonesia. Jika konflik meluas dan memicu gangguan rantai pasokan global, jalur-jalur pelayaran Asia Tenggara akan menghadapi tekanan lebih besar dari rerouting kapal-kapal tanker dan kargo internasional.
Indonesia, sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB pada periode sebelumnya dan pemain aktif di ASEAN, memiliki kepentingan untuk mendorong de-eskalasi dan penyelesaian diplomatik. Dalam situasi seperti ini, diplomasi multilateral dan kerja sama regional menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan.
Kesimpulan: Ancaman yang Melampaui Retorika
Ancaman Trump terhadap Oman bukan sekadar gertakan politik domestik. Ini adalah bagian dari strategi tekanan maksimum yang dijalankan Washington terhadap Iran dan siapa pun yang dianggap mendukungnya. Namun, ancaman ini juga membawa risiko besar: memecah aliansi AS di Timur Tengah, memicu perang regional, dan mengganggu stabilitas ekonomi global.
Selat Hormuz tetap menjadi titik paling rawan dalam konflik ini. Setiap tindakan militer atau penutupan jalur pelayaran di sana akan memiliki efek domino yang dirasakan hingga pasar energi Asia, termasuk Indonesia. Di tengah ketidakpastian ini, satu hal yang jelas: dunia sedang menyaksikan salah satu krisis geopolitik paling berbahaya di dekade ini, dan caranya diselesaikan akan menentukan tatanan keamanan global untuk tahun-tahun mendatang.