Jumat, 17 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Ledakan Meteor 300 Ton TNT Guncang Langit Boston AS

Ilustrasi meteor meledak di langit Boston melepas gelombang kejut masif
Ilustrasi meteor meledak di langit Boston melepas gelombang kejut masif. (Ilustrasi: AI)

NASA: Meteor Pecah dengan Energi 300 Ton TNT

Juru bicara NASA, Allard Beutel, menjelaskan meteor tersebut melaju dengan kecepatan ekstrem — sekitar 120.700 kilometer per jam atau lebih dari 100 kali kecepatan suara. Pada ketinggian sekitar 60 kilometer, tekanan atmosfer dan panas gesekan menyebabkan batuan antariksa itu pecah menjadi beberapa fragmen dalam ledakan dahsyat.

NASA memperkirakan energi yang dilepaskan saat peristiwa fragmentasi tersebut setara dengan ledakan 300 ton TNT. Untuk konteks, bom konvensional terbesar yang digunakan militer AS — MOAB (Massive Ordnance Air Blast) — memiliki daya ledak sekitar 11 ton TNT. Artinya, energi ledakan meteor ini hampir 27 kali lipat lebih besar.

Pelepasan energi masif dalam waktu singkat inilah yang memicu gelombang kejut sonik ganda — dua dentuman berurutan yang terdengar di permukaan. Fenomena serupa pernah terjadi pada 2013 di Chelyabinsk, Rusia, ketika meteor berdiameter 20 meter meledak dengan energi setara 500 kiloton TNT, melukai lebih dari 1.500 orang akibat pecahan kaca bangunan.

Kemungkinan Fragmen Jatuh ke Laut Atlantik

Meskipun ledakan meteor ini memicu gelombang kejut masif, Lunsford menyebut kecil kemungkinan fragmen batuan tersebut mencapai permukaan daratan. “Sebagian besar meteor memang terbakar habis sebelum mencapai permukaan Bumi,” ujarnya.

Namun ia menambahkan, jika ada fragmen yang selamat dari proses ablasi (pembakaran atmosfer), kemungkinan besar jatuh ke laut Atlantik mengingat lintasan objek berada di wilayah pesisir utara AS. “Kami memerlukan lebih banyak informasi mengenai lintasan, kecepatan, dan aspek lainnya untuk mengetahui secara pasti apakah ada fragmen yang mencapai permukaan,” kata Lunsford.

Pejabat NASA juga menegaskan bahwa objek tersebut merupakan material alami — batuan antariksa murni — bukan satelit atau sampah antariksa buatan manusia. Konfirmasi ini penting mengingat semakin banyaknya debris satelit dan roket yang mengorbit Bumi dan berpotensi jatuh kembali ke atmosfer.

Fenomena Langka yang Terus Dipantau

Peristiwa jatuhnya meteor berukuran hampir 1 meter ke atmosfer Bumi tergolong relatif jarang, namun bukan tidak pernah terjadi. Menurut data NASA, sekitar 17.000 meteor jatuh ke Bumi setiap tahunnya, namun mayoritas berukuran sangat kecil dan terbakar habis tanpa menimbulkan efek yang teramati di permukaan.

Meteor yang cukup besar untuk memicu gelombang kejut sonik dan terlihat sebagai bola api di siang hari — seperti yang terjadi di Boston — terjadi beberapa kali dalam setahun di berbagai belahan dunia. Namun kejadian yang disertai dentuman keras dan guncangan bangunan masih cukup langka untuk wilayah berpenduduk padat seperti New England.

American Meteor Society terus mengumpulkan data laporan warga untuk memetakan lintasan meteor secara lebih akurat. Informasi ini penting untuk memahami pola jatuhnya batuan antariksa dan meningkatkan sistem deteksi dini terhadap objek berbahaya dari luar angkasa.

Sementara itu, NASA dan lembaga antariksa dunia terus mengembangkan program pemantauan Near-Earth Objects (NEO) — objek antariksa yang orbitnya berpotensi bersinggungan dengan Bumi. Program ini bertujuan mendeteksi objek berbahaya jauh-jauh hari sebelum memasuki atmosfer, memberikan waktu untuk langkah mitigasi jika diperlukan.

Peristiwa ledakan meteor Boston kembali mengingatkan bahwa meski langka, ancaman dari luar angkasa tetap nyata — dan pentingnya sistem pemantauan serta respons cepat untuk melindungi populasi di Bumi.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda