Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
HIBURAN

Mama Sinta Mengamuk, Laporkan LBH Papua Gara-Gara Film Pesta Babi

Tokoh adat Papua Yasinta Moiwend di Polda Metro Jaya melaporkan kasus film Pesta Babi
Tokoh adat Papua Yasinta Moiwend di Polda Metro Jaya melaporkan kasus film Pesta Babi. (Ilustrasi: AI)

Yasinta Moiwend, tokoh perempuan adat Suku Malind Anim yang menjadi karakter sentral film dokumenter Pesta Babi, mendatangi Polda Metro Jaya pada Jumat (30 Mei 2026) untuk melaporkan John Teddy Wakum, direktur LBH Papua Pos Merauke, dengan tuduhan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Mama Sinta—begitu ia akrab disapa—keberatan wajahnya ditampilkan dalam film yang kini telah ditonton 10 juta kali di YouTube dan meminta pemutaran film tersebut dihentikan.

Langkah ini mengejutkan banyak kalangan mengingat Mama Sinta selama bertahun-tahun dikenal sebagai pejuang vokal yang menentang Proyek Strategis Nasional (PSN) food estate di Merauke, Papua Selatan. LBH Pos Merauke adalah lembaga yang selama ini mendampingi advokasi perjuangannya melawan penggusuran tanah adat akibat proyek lumbung pangan skala masif tersebut.

Sosok Langka yang Vokal Melawan Food Estate

Mama Yasinta adalah warga Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Merauke, yang hanya bisa dijangkau lewat jalur udara atau laut. Kampung berpenduduk 734 jiwa ini menjadi salah satu lokasi cetak sawah bagian dari proyek 1 juta hektar yang dimulai sejak 2024.

Sejak Juli 2024, gelombang pertama 500 unit alat berat—eskavator, buldoser—tiba di kampung tersebut, disusul 264 unit berikutnya dari total 2.000 alat yang dipesan pemerintah. Kedatangan alat berat itu dikawal ketat aparat militer, yang menurut tokoh masyarakat setempat, jumlahnya bahkan melebihi warga sipil.

Mama Sinta tampil langka sebagai perempuan Papua yang vokal menyuarakan perlawanan. Ia berulang kali menggelar demonstrasi, menghadap kepala daerah, Majelis Rakyat Papua Selatan, hingga DPR Kabupaten Merauke—namun aspirasinya terus diabaikan. Bahkan upacara adat Tanam Sasi, ritual kematian Suku Marind yang menggambarkan duka atas kehilangan hutan dan tanah sakral, tetap tidak dihormati.

Pada Oktober 2024, ia sempat membawa surat protes langsung kepada Presiden Joko Widodo di Aksi Kamisan ke-836 di depan Istana. Pada 2025, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menganugerahinya S.K. Trimurti Award atas dedikasi dalam memperjuangkan HAM dan keadilan sosial.

Film Pesta Babi dan Kontroversi yang Mengikuti

Film dokumenter Pesta Babi, yang disutradarai Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale, diluncurkan perdana pada 12 April 2026 di Jakarta, kemudian dipublikasi resmi melalui Jubi TV di YouTube pada 22 Mei. Dalam satu pekan, film tersebut menembus 10 juta penayangan.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda