Sabtu, 18 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

922 Tewas Langgar Gencatan Senjata, Dokter Gaza Terbunuh

Rumah sakit Palestina rusak akibat serangan Israel di Gaza
Rumah sakit Palestina rusak akibat serangan Israel di Gaza. (Ilustrasi: AI)

Yang lebih mengkhawatirkan, pasukan Israel bahkan menghancurkan rumah-rumah di timur Beit Lahiya, Gaza utara, memperluas kehancuran yang sudah meluluhlantakkan lingkungan perumahan di seluruh enklave yang terkepung ini. Penghancuran infrastruktur sipil ini bukan hanya melanggar gencatan senjata, tetapi juga prinsip-prinsip dasar hukum perang yang melarang penghancuran properti sipil secara tidak proporsional.

Kesaksian Tentara Israel: “Ini Seperti Hutan Rimba”

Investigasi jurnalistik oleh kantor berita The Associated Press (AP) mengungkap dimensi gelap di balik angka-angka kematian tersebut. Dalam kesaksian kepada AP, sejumlah tentara Israel yang bertugas di Gaza antara Oktober dan Januari mengakui adanya iklim dehumanisasi terhadap warga Palestina, aturan perang yang sangat permisif, dan pembunuhan rutin terhadap warga sipil selama periode “gencatan senjata”.

Para prajurit cadangan yang bertugas menjelaskan bahwa pasukan Israel sering kali menembak warga Palestina yang mendekati atau melintasi apa yang disebut “Garis Kuning”—sebuah batas yang sering kali tidak jelas antara wilayah yang dikuasai Israel dan bagian lain enklave Gaza. “Ini seperti hutan rimba,” kata seorang tentara kepada AP. “Setelah gencatan senjata, perintahnya adalah: jika seseorang melintasi garis, kamu tembak mereka.”

Kesaksian lain lebih mengerikan. Seorang tentara menceritakan bagaimana rekan-rekannya merayakan setelah serangan terhadap kendaraan yang membawa warga Palestina berhasil membunuh semua penumpang di dalamnya. Prajurit cadangan lainnya mengatakan komandan berulang kali menekankan pentingnya mempertahankan wilayah dengan segala cara. “Ada perasaan umum bahwa nyawa manusia tidak bernilai,” ujarnya.

Pengakuan-pengakuan ini memberikan konteks penting mengapa angka korban terus bertambah meski gencatan senjata seharusnya berlaku. Ketika aturan perang dilonggarkan hingga titik di mana tentara diberi kebebasan menembak hampir tanpa verifikasi ancaman, warga sipil—termasuk tenaga medis seperti Dr Abu Aboun—menjadi korban yang mudah.

Eskalasi Kekerasan Pemukim di Tepi Barat

Sementara Gaza terus mengalami serangan militer, Tepi Barat yang diduduki menghadapi jenis kekerasan yang berbeda tetapi sama merusaknya: serangan pemukim Israel. Pada Sabtu dini hari, pemukim menyerang rumah-rumah di kota Beita, melempar batu, dan menghancurkan kendaraan warga Palestina, sementara pasukan Israel memberikan dukungan dengan menembakkan bom cahaya.

Halaman:1234Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda