Senin, 24 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Shangri-La 2026: Asia-Pasifik Masuk Era Rearmament Besar-besaran

Suasana konferensi keamanan Shangri-La Dialogue dengan delegasi negara Asia-Pasifik
Shangri-La 2026. (Ilustrasi: AI)

Hegseth secara eksplisit memuji Korea Selatan, Filipina, Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan India — mengatakan bahwa berbeda dengan Eropa, mereka telah memahami bahwa perdamaian hanya dapat dijamin melalui kekuatan. Frasa “peace through strength” ia ulangi berkali-kali dalam pidatonya.

Kritik terhadap Eropa ini tidak luput dari perhatian delegasi Jerman, meskipun mereka merespons dengan tenang. Staatssekretär (Sekretaris Negara) Pertahanan Jerman Nils Hilmer mengatakan kawasan ini menghadapi tantangan serupa dengan Eropa, yaitu kapasitas yang tidak memadai. Namun ia menegaskan bahwa sejak amandemen konstitusi, Jerman setidaknya memiliki pendanaan yang cukup.

“Ini adalah pertama kalinya dalam bertahun-tahun Bundeswehr menerima uang yang kami butuhkan, dan tugas terpenting saat ini adalah mengadakan persenjataan yang tepat pada waktu yang tepat dalam jumlah yang tepat,” kata Hilmer.

Suara Keraguan yang Terpinggirkan

Di tengah dominasi narasi “more weapons for more security”, hanya sedikit suara yang mempertanyakan asumsi ini. Salah satunya datang dari Mirjana Spoljaric, Presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC), yang menyuarakan kekhawatiran tentang konsekuensi humaniter dari gelombang rearmament ini.

“Di mana senjata diproduksi, senjata pada akhirnya akan digunakan,” kata Spoljaric. “Aliran senjata yang masif, produksi senjata yang masif, dan investasi masif dalam pertahanan pada akhirnya akan menciptakan kerugian manusia dan material. Itulah mengapa kita harus memperhitungkan sisi perang itu sejak awal, sejak hari pertama, saat kita menyusun anggaran pertahanan.”

Namun perspektif ini tidak mendapat ruang signifikan dalam diskusi utama konferensi. Fokus tetap pada bagaimana negara-negara dapat meningkatkan kapasitas militer mereka secara cepat dan efektif.

Dalam pidatonya, Hegseth bahkan tidak menyebut Taiwan — topik yang biasanya menjadi sorotan dalam diskusi keamanan Asia-Pasifik dan sumber utama ketegangan AS-China. Penghindaran ini dipandang sebagai bagian dari strategi diplomatik yang lebih luas, meskipun Taiwan tetap menjadi elephant in the room dalam setiap diskusi tentang keseimbangan kekuatan regional.

Implikasi untuk Stabilitas Regional

Shangri-La Dialogue 2026 mengonfirmasi tren yang telah terlihat dalam beberapa tahun terakhir: kawasan Asia-Pasifik sedang bergerak menuju militerisasi yang lebih dalam. Lonjakan 8,1% dalam belanja militer pada 2025 kemungkinan besar hanya awal dari tren jangka panjang.

Halaman:1234Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda