Sabtu, 18 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Komunitas Alevi di Jerman Upayakan Lestarikan Warisan Budaya

Upacara Cem komunitas Alevi di cemevi Jerman dengan jemaat berkumpul melingkar
(Ilustrasi: AI)

Di tengah hiruk-pikuk diskursus multikulturalisme Eropa, satu komunitas agama berupaya keras menyelamatkan warisan spiritual yang nyaris punah. Komunitas Alevi, yang kini mencakup sekitar 13% dari populasi Muslim di Jerman, tengah mengalami kebangkitan intelektual dan budaya yang unik. Dengan sekitar 200 organisasi tersebar di seluruh negeri, mereka tidak hanya membangun ruang ibadah, tetapi juga mengonstruksi kembali memori kolektif yang hampir lenyap akibat urbanisasi, migrasi, dan persekusi yang berlangsung selama berabad-abad.

Apa yang membuat perjuangan ini mendesak adalah fakta bahwa kepercayaan Alevi — yang berkembang sejak abad ke-13 — secara tradisional diwariskan secara lisan di desa-desa terpencil Anatolia, Turki. Ketika eksodus pedesaan dimulai pada 1950-an, diikuti urbanisasi masif dan gelombang migrasi besar-besaran ke Eropa Barat, banyak komunitas desa Alevi menghilang, membawa serta pengetahuan spiritual mereka. Kini, Jerman menjadi medan baru untuk menghidupkan kembali tradisi yang nyaris terlupakan tersebut.

Akar Sejarah dan Filosofi Alevi

Alevisme terbentuk dari kombinasi unik antara syamanisme Asia Tengah, Islam Syiah, dan mistisisme Muslim (tasawuf). Pengikut Alevi menghormati Nabi Muhammad bersama sepupunya dan menantunya, Imam Ali yang pertama, serta tradisi Dua Belas Imam dalam Syiah, sambil menekankan ajaran etika dan mistis yang kuat.

Berbeda dari Islam Sunni yang dominan di Turki, Alevi mempraktikkan ritual khusus seperti upacara Cem — peribadatan yang dilakukan bersama pria dan wanita dalam satu ruang — dan upacara Semah, di mana umat menari dalam formasi melingkar diiringi alunan musik saz, sejenis kecapi berleher panjang. Nilai-nilai humanisme, kesetaraan gender, dan toleransi menjadi inti ajaran yang disampaikan melalui perumpamaan, cerita, dan lagu.

Perbedaan-perbedaan inilah yang membuat komunitas Alevi mengalami persekusi panjang selama era Kesultanan Ottoman (1299-1922), dan berlanjut hingga era Republik Turki modern. Pogrom-pogrom terhadap Alevi sepanjang dekade 1990-an — terutama pembakaran Sivas pada 1993 yang menewaskan 35 orang — menjadi titik balik yang memicu gelombang organisasi politik Alevi, tidak hanya di Istanbul tetapi juga di kota-kota Jerman seperti Hamburg, Cologne, dan Berlin yang menjadi rumah bagi banyak pekerja migran asal Turki.

Halaman:1234Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda