Kebangkitan Organisasi Alevi di Jerman
Saat ini terdapat sekitar 200 organisasi Alevi di seluruh Jerman, sebagian besar berada di bawah naungan Federasi Persatuan Alevi Jerman (AABF, Almanya Alevi Birlikleri Federasyonu). Pengakuan resmi terhadap komunitas agama Alevi telah diraih di negara bagian North Rhine-Westphalia dan Berlin, yang memberikan hak serta kewajiban tertentu kepada komunitas ini.
Salah satu lembaga penting adalah Institut Budaya Alevi-Bektashi di North Rhine-Westphalia, sebuah organisasi non-pemerintah yang berupaya menciptakan ruang untuk praktik ilmiah dan penghormatan terhadap tradisi budaya. Institut ini dipimpin oleh Gülizar Cengiz, anggota ordo Bektashi, yang menekankan pentingnya jalur pengetahuan.
“Pedoman kami adalah pepatah mistikus Muslim Haji Bektash,” ujar Cengiz kepada DW. “Ujung dari setiap jalan adalah kegelapan jika ia bukan jalan pengetahuan.”
Cengiz menjelaskan bahwa sayangnya banyak pengetahuan seputar filosofi agama dan budaya Alevi telah hilang selama berabad-abad. Karena itu, institut yang dibuka awal 2026 ini memfokuskan upayanya pada pembangunan dan pemeliharaan arsip naskah-naskah historis, serta rekaman video dan audio dari ritus dan pertemuan agama Alevi.
“Komunitas yang tidak memiliki sejarah dan ingatan masa lalu berisiko menghilang,” tambah Cengiz. Ia menunjukkan bahwa banyak Alevi yang membakar atau mengubur dokumen tulisan tangan seperti surat dan buku harian karena takut dokumen tersebut dapat memicu permusuhan atau bahkan serangan fisik.
Pendidikan dan Riset Akademis Teologi Alevi
Studi akademis tentang Alevisme kini mendapat sambutan luas di kalangan Alevi Jerman. Cem Kara, profesor Teologi Alevi di Universitas Hamburg, menyatakan bahwa “ada kebutuhan besar akan pengetahuan konkret, dan ilmuwan memiliki peran khusus di sini.”
Institut Teologi Alevi yang didirikan pada 2024 di Universitas Hamburg merupakan salah satu lembaga akademis pertama di dunia yang didedikasikan untuk kepercayaan ini. Institut tersebut melatih guru-guru yang terlibat dalam program khusus pendidikan agama antar-denominasi Hamburg serta pendidik agama lainnya. Mulai 2027, institut ini juga diharapkan melatih mahasiswa teologi.
Sejauh ini, riset tentang Alevisme masih terbatas. Markus Dressler, profesor studi Turki modern di Institut Studi Agama Universitas Leipzig, mengatakan kepada DW bahwa “ada riset yang terisolasi, sebagian besar dalam konteks sejarah Ottoman dan Turki.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.