Kamis, 13 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Rusia Mengamuk: 8.150 Drone Hantam Ukraina dalam Serangan Terbesar

Ilustrasi serangan masif drone dan rudal Rusia menghantam kota-kota Ukraina dalam operasi militer terbesar
Rusia Mengamuk. (Ilustrasi: AI)

Kyiv mengalami serangan paling intens dengan sistem pertahanan udara bekerja keras mencegat proyektil di udara. Ledakan-ledakan terdengar di berbagai distrik ibu kota, dengan puing-puing rudal yang berhasil diintersep jatuh ke area pemukiman dan memicu kebakaran sekunder. Infrastruktur energi kembali menjadi target prioritas, mengikuti strategi Moskow untuk melumpuhkan pasokan listrik menjelang musim dingin.

Selain Kyiv, kota-kota besar seperti Kharkiv, Odesa, Lviv, dan Dnipro juga menghadapi serangan simultan. Target yang diidentifikasi termasuk stasiun pembangkit listrik, gardu induk transmisi, fasilitas logistik kereta api, dan gudang-gudang yang diduga menyimpan bantuan militer Barat. Koordinasi serangan multi-target ini menunjukkan perencanaan operasional yang kompleks dan kemampuan komando-kontrol real-time yang canggih.

Kementerian Pertahanan Ukraina melaporkan berhasil mencegat sekitar 60% dari total proyektil yang ditembakkan, namun jumlah absolut yang lolos tetap signifikan mengingat volume serangan. Sistem pertahanan udara Western-supplied seperti Patriot dan NASAMS bekerja pada kapasitas maksimum, memunculkan kekhawatiran tentang deplesi stok rudal interseptor.

Teknologi Drone Swarm dan Taktik Saturasi

Serangan ini merepresentasikan evolusi signifikan dalam penggunaan drone swarm (kawanan drone) dalam konflik modern. Rusia tampaknya mengadopsi doktrin “saturasi defensif” yang dikembangkan dari pengalaman melawan sistem pertahanan udara berlapis Ukraina yang diperkuat teknologi NATO.

Drone Shahed-136 yang digunakan memiliki biaya produksi sekitar $20.000 per unit, jauh lebih murah dibanding rudal interseptor yang digunakan untuk menghancurkannya yang bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan dollar. Disparitas ekonomi ini menciptakan “cost-imposing strategy” di mana Rusia memaksa Ukraina menghabiskan sumber daya pertahanan yang jauh lebih mahal untuk setiap drone yang ditembakkan.

Teknologi navigasi drone telah ditingkatkan dengan sistem GPS-denied navigation yang membuat electronic warfare Ukraina kurang efektif. Beberapa drone dilaporkan menggunakan image-recognition untuk navigasi terminal, memungkinkan mereka mencapai target meski dalam lingkungan GPS-jammed. Ini menunjukkan adopsi teknologi AI dan machine learning dalam sistem senjata otonom yang menjadi kekhawatiran komunitas internasional.

Koordinasi antara gelombang drone dan rudal juga menunjukkan integrasi komando yang sophisticated. Data dari drone yang mencapai zona target lebih dulu kemungkinan digunakan untuk guidance rudal presisi yang mengikuti, menciptakan efek sinergi yang meningkatkan efektivitas serangan secara keseluruhan.

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 13 Agustus 2026: Klaim Pack & Coins Gratis