Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menghadapi ancaman serius musim kemarau ekstrem tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Babel merespons situasi dengan membangun embung cadangan air baru sebagai strategi vital penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini semakin mendesak setelah embung existing mengalami penyusutan drastis, sementara prediksi cuaca menunjukkan kemarau 2026 akan lebih panjang dan kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kepala BPBD Provinsi Kepulauan Babel Budi Utama menegaskan pentingnya infrastruktur cadangan air ini, terutama mengingat karakteristik geografis Babel yang memiliki banyak kawasan rawan kebakaran sulit dijangkau.
“Saat ini air di embung BPBD sudah mengalami penyusutan, sehingga diperlukan pembangunan embung baru,” katanya di Pangkalpinang mengutip Antara, Kamis, (4/6/2026).
Strategi Pemanfaatan Kolong Bekas Tambang
BPBD Babel mengambil pendekatan inovatif dengan memanfaatkan kolong-kolong atau bekas tambang timah sebagai lokasi embung baru. Strategi ini memanfaatkan infrastruktur lahan bekas yang sudah tersedia, sekaligus memberikan fungsi baru pada area pasca-tambang yang selama ini tidak produktif.
“Saat ini kami sedang mencari kolong-kolong bekas tambang timah, agar bisa dijadikan sebagai embung cadangan air penanganan bencana kebakaran, khususnya karhutla, selama musim kemarau panjang ini,” jelas Budi Utama.
Pemetaan lokasi potensial tengah dilakukan untuk mengidentifikasi kolong yang paling strategis dari segi aksesibilitas dan kapasitas tampung air.
Pendekatan ini tidak hanya efisien dari segi waktu dan biaya pembangunan, tetapi juga sejalan dengan upaya reklamasi lahan bekas tambang yang selama ini menjadi isu lingkungan di Babel. Provinsi yang identik dengan pertambangan timah ini memiliki ratusan kolong bekas tambang yang berpotensi dioptimalkan sebagai infrastruktur cadangan air.
Urgensi di Tengah Prediksi Kemarau Ekstrem
Urgensi pembangunan embung tambahan ini diperkuat oleh analisis iklim terkini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG Kepulauan Babel Eko Sulistyo Nugroho menyampaikan prediksi mengkhawatirkan berdasarkan pemetaan spasial curah hujan bulanan periode Juni hingga November 2026.
“Beberapa wilayah diprakirakan memiliki potensi kondisi kering yang lebih signifikan dibandingkan daerah lainnya, terutama pada puncak musim kemarau pada September 2026,” kata Eko.
Wilayah prioritas kekeringan terkonsentrasi di Bangka Barat bagian barat, Bangka Selatan, Belitung bagian barat, dan Belitung Timur bagian timur.
Wilayah-wilayah ini diperkirakan menerima curah hujan jauh lebih rendah dibanding area sekitarnya, meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran lahan secara signifikan. Kondisi ini diperburuk oleh keberadaan lahan gambut di beberapa area, yang sangat mudah terbakar saat kering dan menghasilkan kabut asap dalam skala besar.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.