Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat Meski Asing Jual Rp 1,2 T

Layar digital bursa saham Indonesia menampilkan grafik IHSG menguat dengan aktivitas perdagangan
(Ilustrasi: AI)

Meskipun IHSG menguat, data transaksi menunjukkan investor asing masih mencatat net sell (jual bersih) senilai Rp 1,2 triliun pada perdagangan Selasa. Angka ini memperpanjang tren pelepasan saham oleh investor asing yang sudah berlangsung empat pekan berturut-turut, dengan total akumulasi net sell mencapai Rp 6,8 triliun sejak awal Mei 2026.

Analis dari PT Infovesta Utama, Hari Raya, menjelaskan bahwa aksi jual asing didorong oleh faktor eksternal, terutama kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang kini berada di level 4,65 persen untuk tenor 10 tahun. Kenaikan yield AS membuat aset-aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi kurang atraktif bagi investor global yang mencari return lebih tinggi dengan risiko lebih rendah.

“Meski asing keluar, tekanan terhadap IHSG belum terlalu dalam karena investor domestik, terutama institusi lokal dan reksa dana, masih melakukan pembelian selektif di saham-saham fundamentalnya kuat,” jelas Hari Raya dalam riset hariannya. Ia menambahkan, minat beli domestik terkonsentrasi di sektor energi, infrastruktur, dan beberapa saham teknologi yang dinilai undervalued.

Net sell asing terbesar tercatat di sektor perbankan dan konsumer, sementara sektor energi justru mencatat net buy tipis dari investor asing yang memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas. Pola ini menunjukkan bahwa meski secara agregat asing masih menjual, mereka tetap selektif dan memanfaatkan peluang trading di sektor tertentu.

10 Sentimen Besar yang Akan Menguji Ketahanan IHSG

Proyeksi penguatan IHSG dalam jangka pendek tidak lepas dari sejumlah sentimen besar yang akan menguji ketahanan pasar. Analis mengidentifikasi setidaknya 10 faktor kunci yang perlu dicermati investor dalam beberapa hari ke depan.

Pertama, eskalasi konflik Iran-AS di Timur Tengah yang berdampak langsung pada harga minyak dan sentimen risiko global. Kedua, keputusan suku bunga Federal Reserve AS yang dijadwalkan dalam rapat FOMC pertengahan Juni, dengan pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di level 5,25-5,50 persen. Ketiga, data inflasi Indonesia Mei 2026 yang akan dirilis pekan depan dan dapat memengaruhi kebijakan Bank Indonesia.

Halaman:1234Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda