Rabu, 22 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Iran Ancam Balas Serang AS Usai Kapal Tanker Diserang Kuwait

Kapal tanker Iran diserang di perairan Teluk Persia kawasan Kuwait
(Ilustrasi: AI)

Ketegangan di Teluk Persia kembali mencapai titik kritis. Washington dilaporkan melancarkan serangan terhadap kapal tanker milik Iran di perairan Kuwait dalam beberapa hari terakhir. Insiden ini memicu kemarahan Teheran yang langsung mengancam pembalasan keras terhadap kepentingan AS di kawasan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan serangan terhadap kapal tanker minyak mereka sebagai tindakan agresi. Menurut pernyataan resmi Teheran, aksi ini melanggar hukum internasional dan kedaulatan negara berdaulat. Pemerintah Iran menilai ini sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam stabilitas regional di Timur Tengah, khususnya di jalur perdagangan minyak global yang strategis.

Iran mengklaim telah menyerang balik markas Armada Kelima Angkatan Laut AS menggunakan kombinasi rudal dan drone. Hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai kerusakan atau korban dari serangan balasan tersebut. Namun pernyataan Teheran menunjukkan keseriusan ancaman militer yang dihadapi kedua negara di kawasan yang selama ini menjadi arena proxy war dan konflik berkepanjangan.

Latar Belakang Konflik AS-Iran di Teluk Persia

Konflik ini bukan fenomena baru. Ketegangan telah berlangsung selama lebih dari empat dekade sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979. Kawasan ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan kedua negara. Sekitar 21 persen pasokan minyak global melewati jalur maritim strategis di sini.

Dalam beberapa tahun terakhir, insiden di perairan ini semakin sering terjadi. Pada Mei 2019, empat kapal tanker minyak mengalami serangan sabotase di lepas pantai Uni Emirat Arab. Serangan itu diyakini melibatkan Iran, meski Teheran membantah keterlibatan. Bulan berikutnya, dua kapal tanker lainnya diserang di Teluk Oman. Kejadian tersebut meningkatkan kekhawatiran global akan keamanan jalur pelayaran minyak internasional.

Konflik semakin memburuk pasca keputusan Presiden Donald Trump pada 2018. Trump menarik AS keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA). Kemudian Washington memberlakukan kembali sanksi ekonomi keras terhadap Teheran. Sanksi tersebut secara khusus menargetkan industri minyak dan perbankan Iran. Ekonomi negara tersebut terpukul dan mendorong respons militer yang lebih agresif dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Halaman:1234Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda