Rabu, 22 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Israel Langgar Gencatan Senjata, 190 Serangan Sasar RS Lebanon

Serangan Israel di Lebanon usai gencatan senjata dengan asap membubung dari gedung rusak
(Ilustrasi: AI)

Gencatan senjata yang baru saja diumumkan antara Israel dan Lebanon belum sempat memberikan jeda signifikan bagi warga sipil di wilayah perbatasan. Dalam perkembangan yang menambah ketegangan regional, pasukan militer Israel kembali melancarkan serangan terhadap wilayah Lebanon, memicu gelombang kecaman internasional dan keraguan atas komitmen pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.

Serangan terbaru ini menjadi episode dalam pola eskalasi yang telah berlangsung berbulan-bulan, mencerminkan ketidakstabilan berkelanjutan di kawasan Timur Tengah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan data mengkhawatirkan: hampir 190 serangan Israel telah menyasar fasilitas kesehatan di Lebanon sejak Maret 2026, menandai pola sistematis yang mengancam infrastruktur vital dan kehidupan warga sipil.

Kembali bergejolaknya konflik ini bukan hanya mempertanyakan efektivitas diplomasi gencatan senjata, tetapi juga membuka pertanyaan lebih luas tentang masa depan stabilitas regional dan peran komunitas internasional dalam mencegah krisis kemanusiaan yang terus memburuk.

Latar Belakang Konflik Israel-Lebanon

Konflik antara Israel dan Lebanon, khususnya dengan kelompok militan Hizbullah yang berbasis di Lebanon Selatan, memiliki akar sejarah yang panjang dan kompleks. Ketegangan ini mencapai puncaknya dalam beberapa bulan terakhir, dengan eskalasi yang dimulai pada akhir 2025 dan terus berlanjut hingga pertengahan 2026.

Hizbullah, yang memiliki hubungan erat dengan Iran, telah menjadi kekuatan dominan di Lebanon Selatan dan berulang kali terlibat dalam konfrontasi dengan Israel. Kelompok ini mengoperasikan jaringan militer yang canggih, termasuk sistem rudal dan drone, yang telah digunakan dalam serangan terhadap posisi militer Israel di wilayah perbatasan.

Pada bulan-bulan sebelumnya, konflik ini telah mengalami beberapa putaran intensifikasi. Pada Mei 2026, Hizbullah mengklaim telah menghancurkan pangkalan rudal rahasia Israel di wilayah Lebanon Selatan, sebuah klaim yang memicu respons keras dari militer Israel. Gempuran balasan Israel memaksa ratusan warga sipil mengungsi dari zona perbatasan.

Ketegangan juga melibatkan aktor regional lain. Iran, sebagai pendukung utama Hizbullah, telah menjadi sasaran ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pada akhir Mei menggunakan frasa kontroversial tentang “menyelesaikan pekerjaan” di Iran. Sementara itu, hubungan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri mengalami ketegangan signifikan awal Juni 2026, ketika Trump dilaporkan marah atas intensifikasi serangan Israel yang mengancam perang regional lebih luas.

Halaman:12345Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda